Gita Sinaga yang terkenal sebagai artis FTV ini punya sisi lain dari kehidupannya. Ia mampu menulis dan membacakan puisi di khalayak ramai. Beberapa waktu lalu, saat kondisi politik tengah ramai dalam kontestasi pemilihan presiden, Gita pun andil menyuarakan puisinya.

Ia himpun kalimatnya dalam sebuah instagram, @puisinaga. Ia kemas baik-baik dengan foto yang menggambarkan karyanya. Tengok beberapa puisinaga karya Gita Sinaga di bawah ini.

Aku berhenti menulis puisi..
Tidak
Tepatnya aku berhenti menulis puisi kebahagiaan
Meski seperti menjala angin
Bukan untuk dia memelukku malam-malam
Bukan untuk dia mencium keningku berkali-kali sebelum lelap

Tapi untuk aku peluk punggungnya yang membelakangi ku

Ketulusan bukan matematika
Tapi cinta tanpa perbuatan memang fatal
Aku harus kasih tau pada pemilik punggung bisu itu

Aku memang bodoh mencintainya

Aku ikhlas dalam perlakuanmu
Aku hanya tidak ikhlas orang yg aku cintai bercerita tentang ratapannya tiap malam tanpa pelukan ku.

Aku berhenti membenci segala yg terjadi.
Tentang bagaimana cara kita mencintai
Dan melihat satu sama lain dari sudut mata kita yang angkuh

Penuh salah dan harapan yang lebih mirip ratapan
Dia tidak merasa aku ada
Aku tidak merasa dia menginginkan
Tidak ada hari bahagia hingga menutup mata
Tidak ada cinta tanpa luka
Tidak cinta namanya bila kita bisa jatuh dan bangun terus menerus?

Hingga aku akhirnya mampu memaknai ini semua sejak dulu tapi terus menipu kepalaku
Bila aku tidak mengajak bangun maka kita tidak punya buku tebal ini
Tidak ada cinta yang sempurna tanpa salah, tidak ada cinta tanpa marah
Tidak ada cinta tanpa mata melihat
Lagu yang aku ciptakan tidak pernah dia nyanyikan
Airmata itu hanya butiran yang bias
Dan haru itu hanya hari yang bias
Adakah bintang yang pernah berteriak dari langit
Aku menghiasi malam mu?
Adakah langit yang berkata dirinya lebih tinggi dari gedung tempat manusia mencari makan

Aku hanya lebih rendah dari tanah tanpa harapan
Dan tidak akan lebih tinggi dari mata kaki mu yang memijak
Pada sudut pandang yang bisu
Aku mengamininya dalam tawa
Bahagia itu adalah melihat cahaya yang terang sekali
Apa cahaya itu?

Tidak ada cahaya yang lebih terang dari cahaya api dari jembatan yang dia bakar 🙂
Aku selalu berdiri memandang api itu lebih dari seribu hari kemarin.
Aku bukan rumah
Aku hanya tempat singgah
Dan tempat rebah sejenak
Bila tempat tidur ku rubuh .
Maka dia pergi
Seperti sejak tempat rebah sebelumnya sudah tidak layak
bibir besar yang tidurnya lelap
Puisi ini memang berubah.

BACA JUGA : SIAP-SIAP ARTIS GITA SINAGA RILIS BUKU PERTAMANYA

3 April 2019
Menjadi pengalaman pertama saya berada diantara ribuan manusia.
Panas, berdesakkan.
Kami berada dibawah awan yang sama untuk mendukukung orang yang kami kagumi

Hallo Pak, politik sungguh mengerikan, kami tidak tahu warna yang sesungguhnya dari mereka yang berdiri disana. Bahkan kami tidak tahu, apakah Bapak benar-benar berdiri untuk kami? Tapi semenjak kami mengenal Bapak, kami mulai punya harapan.
Semoga kami terus bisa berharap kepada Bapak, untuk membangun Indonesia bukan hanya sekedar di bibir saja.
Merangkul tidak hanya yang kuat tapi juga memeluk yang lemah.
Ketulusan dan kejujuran akan selalu mengena dihati.
Teruslah menularkan semangat kepada kami Pak, yang bukan hanya sekedar pemimpin tapi juga panutan dalam kehidupan, saya juga ingin seperti Bapak.
Semoga teriakkan kekaguman kami siang ini tidak akan sia-sia. Dan kami bukan hanya terkelabuhi oleh citra dan asa yang selalu Bapak tawarkan.

Dibalik banyak yang membenci dan mencaci mu akan selalu ada doa dan dukungan dari kami yang mencintai mu.
Ingin rasanya Indonesia jauh lebih damai dari saat ini, tidak melihat perbedaan agama, suku dan pendapat menjadi jurang pemisah.

Sehat selalu Pak,
Agar bisa mewujudkan banyak harapan yang mungkin sudah mulai usang.

Semoga Tuhan yang “selama ini dan selalu” memimpin langkah mu.

Surat untuk ruang sepi

Aku hanya manusia yang sudah menghancurkan malam mu
Merusak hidup mu

Dan gagal mencintai mu
Aku mundur lilin kecil
Aku bukan tempat berharap yang pantas
Aku hanya seniman tolol
Yang tidak mampu mencintai mu dengan benar
Yang tidak pantas untuk mu
Aku mundur lilin kecil
Aku hanya akan berdiri dibelakang mu, memperhatikan mu dengan sendu
yang akan bangga pada setiap kesuksesan mu dan yang akan memeluk mu ketika kamu dihina
Bila masih dibutuhkan
Aku bukan yang pernah membuat senyum diwajahmu
aku hanya bisa membuang air mata yang terus jatuh selama seribu hari kemarin
Aku bukan yang mampu membawa mu menuju masa depan hingga tua
Aku hanya yang tidak pernah menaruh kebaikan pada hidup berat mu.
Pergilah dan jangan berduka lagi lilin kecil
Tidak pantas aku menjadi sebab duka mu
Hari mu akan lebih cerah dari cerita hidup kita yang lusuh
Akan ada yang mencintai mu dengan benar
Yang akan memelukmu setiap malam
Dan mencintai mu sampai menutup matanya
Yang akan membuat teman-teman mu tersenyum dan bersyukur
Aku akan bahagia dari belakang
Aku bukan manusia yang pantas tinggal dibenak mu
Buanglah aku jauh dari ingatan biru mu
Aku hanya akan kembali pada hidup yang sunyi
Bersama yang sudah melahirkan ku
Dan hidup untuk dunia ku yang gaduh dan tidak akan bisa kamu pahami
Bernyanyi lagu sendu
Berpuisi kelam
Menarikan kelirihan
Dan
Mencintaimu dalam diam
Marah
Menangis
Tertawa
Marah lagi
Menangis lagi
Tertawa lagi hingga mati
Dunia ku terlalu gila untuk mu
Tangan lembut mu yang ku cium sebelum pergi sudah menghantarkan langkahku untuk menjauh
Aku akan merindukan pelukan mu yang tidak lagi hangat
Aku pamit lilin kecil
Tetaplah bersinar
Dan baik seperti seribu hari yang sudah aku lewati bersamamu
Kamu tidak akan sakit lagi
Bawalah cinta menyakitkan ku ini
Aku sudah tidak butuh lagi cinta
Aku akan tertawa digelapnya dunia
Aku pamit sayur
#suratuntukruangsepi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

error

Please follow & like us :)