Faisal Syahreza

Karya seorang penulis dipengaruhi berbagai hal. Mulai dari kenangan, rentetan peristiwa hidup, lingkungan, teman-teman, juga bacaan yang kerap membuat seorang penulis tumbuh. Seperti halnya Faisal Syahreza, sang penulis Semoga Lekas Lega.

“Aku sih sederhana, aku termasuk orang yang suka sastra tapi tetep jamanku pacarannya, pacarku suka nyetel lagu itu. Maka beberapa tahun kemudian ketika saya pengen nulis, saya teringat lagu itu (The Beatles-yesterday),” ungkap Faisal dalam sebuah Talkshow di Matraman.

Faisal menduga, manusia hidup dari kolektif kenangan atau hidup yang ingin dipertahankan. Dari sana, ramuan menulis pun terisi dan terdiri atas berbagai kenangan, peristiwa, dan apa yang dibaca. Semakin ke sini, penulis akan semakin tahu tentang tulisannya : ia punya rumah sendiri.

“Dia bakal pulang ke pembacanya, entah pembacanya itu 20 tahun kemudian atau 10 tahun kemudian,” katanya.

BACA JUGA : FAISAL SYAHREZA BICARA SOAL SELF EDITING

Banyak karya penulis dunia baru dikenal ketika ia telah meninggal. Seperti halnya Chairil Anwar yang mati di usia muda namun puisinya masih bergaung sampai saat ini. Bisa jadi banyak penulis terinspirasi dari sejarah dan tulisannya yang memengaruhi sebuah karya.

Semoga Lekas Lega

Alasan Faisal

Terbitnya Semoga Lekas Lega ada di awal bukunya. Enggak mungkin bisa menyembuhkan dirimu ketika kecewa, enggak pernah bisa kasih jaminan semudah di masa lalu.

“Tapi saya jamin, buku ini adalah buku doa. Artinya kalau kita punya harapan, maka kita pastikan kita orang yang paling kaya di dunia. Dibanding sebaliknya, ini hikayat yang aku baca dari agama dan budaya,” paparnya.

Menjadi seorang penulis tidak hanya berasal dari latar belakang sastra dan bahasa. Karena, apapun latar belakangnya, semua bisa menjadi penulis. Faisal menyesal bahwa dulu ia justru mengambil pendidikan S-1 sastra dan S2 sastra.

“Kenapa dulu enggak ngambil arsitektur, teknik,” ujar dia.

Setiap hari Faisal berpikir bagaimana kalau ia bisa membuat puisi dari dua kata. Atau, bagaimana ia mampu membuat novel dari instagram. Kemudian, ia mendorong dirinya untuk berkarya. Akhirnya, terbitlah Semoga Lekas Lega.

Faisal berharap, keadaannya saat ini akan dilihat oleh anaknya 20 tahun kemudian supaya karyanya tetap abadi dan dirasakan getarannya oleh para pembaca. Seperti Chairil Anwar dengan puisi-puisinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

error

Please follow & like us :)