Orang Tua Helen Maria Eleonora

Ayahku, adalah seorang administrateur di salah satu perkebunan teh yang ada di kawasan Ciwidey. Tugasnya mengelola hal-hal yang berhubungan dengan perkebunan teh agar semuanya berjalan dengan baik, dari mulai pengolahan daun teh muda, penyediaan pupuk kandang, mengatur peti-peti teh yang harus diangkut dan lain-lain, termasuk harus mengawasi mesin gulung, saringan mekanis, dan metode fermentasi. Oleh karena itu seorang Administrateur, seperti ayahku, harus tinggal di rumah yang berada di daerah perkebunan agar bisa mudah mengontrolnya setiap saat. Selain menerima gaji tahunan, ayah juga mendapat bonus, yang jumlahnya ditentukan oleh laba perusahaan. Oleh karena itu ayah adalah salah satu orang yang bisa menghasilkan banyak uang di Hindia Belanda. 

Ayahku orang yang sangat sibuk, dan selalu terlihat membenamkan dirinya di dalam pekerjaan. Jika harus lembur, dia akan pulang di ujung sore dengan tubuh berkeringat dan penuh debu, kadang-kadang dipenuhi oleh lumpur atau basah kuyup diguyur oleh hujan. 

Di rumah, dia akan sedang menulis di mejanya untuk membuat pembukuan dan urusan-urusan lain yang menyangkut masalah perkebunan. Di atas meja tulisnya itu, ayahku telah memainkan peranan penting di dalam perkembangan salah satu perkebunan teh yang ada di kawasan Ciwidey. Jika dia sudah di sana, dia akan seperti orang yang diam-diam sedang menikmati dirinya. 

Ayahku bernama Adriaan, seorang Belanda dengan kulit berwarna kemerahan dan selalu mengenakan pakaian serba putih, dari mulai topi kebun, celana, sampai kemeja yang memiliki banyak kantong besar. 

***

Sedangkan ibuku, bernama Maria. Dia lahir di Den Haag tahun 1907. Matanya berwarna coklat agak terang dengan rambut sebahu berwarna pirang. Kalau aku bilang dia cantik, karena memang begitulah dirinya, apalagi kalau sudah memakai kebaya flannel yang dipadu deengan sarung batik Pekalongan, dia tidak akan cuma cantik, tetapi sekaligus juga anggun.

Mama, begitu aku menyebut dirinya, hanya ibu rumah tangga biasa dan memiliki satu kamar khusus sebagai ruang untuk menjahit.  Kadang-kadang dia akan menghabiskan sebagian besar harinya dengan menjahit di sana.

***

Mama selalu melakukan banyak hal yang menyenangkan yang bisa aku rasakan. Kadang-kadang Mama suka bercanda denganku seperti di hari itu, ketika Mama membuatku berguling-guling di sofa, sementara tangan Mama menggelitiki pinggangku.

Aku teriak sambil ketawa. “Stop!” kataku.

Waktu itu aku masih kecil, mungkin masih berusia delapan tahun. Mama terus mengejarku yang berlari untuk berlindung di balik badan Sitih, pengasuhku. Sitih tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya tersenyum melihat tingkah laku kami sore itu.

“Sitih, apakah Sitih melihat Helen?” tanya Mama, berpura-pura tidak tahu kalau aku sedang sembunyi di balik badan Sitih yang sudah diam berdiri. 

“Jangan Mama kasih tahu, Sitih!” kataku dengan berbisik kepada Sitih.

“Jangan Nona bicara!” jawab Sitih berbisik dengan sedikit ketawa. “Nanti Mama tahu.”

“Sitih, niet praten!” kataku.

“Nee…” jawab Sitih. 

Sitih memang mengenal sedikit bahasa Belanda dan juga ingin bisa bicara lancar dalam bahasa itu. 

“Apakah Mama boleh bicara?” tanya Mama dalam bahasa Belanda. Jelas pertanyaan itu ditujukan kepadaku yang sedang sembunyi di balik badan Sitih.

“Nee!” kujawab, disambut oleh Mama dan Sitih yang ketawa.

Setiap kupikirkan kembali akan hari-hari ketika aku masih kecil, aku akan langsung memikirkan semua kenangan yang indah di masa itu. Rasanya ingin bisa kembali ke titik di dalam hidupku di mana semuanya tampak begitu sederhana. Rasanya masa kecilku itu adalah masa-masa yang penuh bahagia. 

Sudah dulu ya, saya mau nulis lagi.

Kengkawan bisa baca ulasan-ulasan Helen dan Sukanta melalui artikel yang dibuat oleh ahlinya di bawah ini…

error

Please follow & like us :)