Orang Tua Helen Maria Eleonora

Apakah Sinterklaas benar-benar akan memenuhi keinginanku? Bahkan aku meragukan keberadaannya. Kalaupun benar Sinterklaas itu ada, yang asli pasti sudah lama mati. Tidak pernah ada lagi. Begitulah pendapatku.

Tetapi pada suatu hari di bulan April, tahun 1937, aku mendapatkan hal lain daripada biasanya.

Aku melihat seorang anak muda, kira-kira berumur lima belas tahun, berada di halaman depan rumahku. Aku melihatnya melalui ambang jendela kamarku, ketika sedang duduk setengah lesu di kursi rotan.

Anak muda itu menarik perhatianku. Aku tidak tahu siapa dia. Aku baru melihatnya hari itu. Aku bertanya-tanya siapakah orang itu? Dari manakah datangnya? Mengapa dia berani masuk ke halaman rumahku?

Dia menggunakan celana komprang dan baju pangsi warna putih. Tidak ada warna atau desain yang nyata, tetapi keseluruhan pakaiannya menyatu menjadi pakaian khas Sunda, yang biasa dipakai oleh anak-anak warga pribumi.

Dia sama sekali tidak seperti anak pribumi pada umumnya. Tampak sehat, segar, bersih dan ceria, berambut tebal dan juga bagus. Dia seorang anak muda yang menarik dan wajahnya sangat enak dilihat, kira-kira begitulah maksudku.

Aku mengubah tempat dudukku untuk sedikit lebih mudah mengawasinya. Kemudian, aku melihat dia sedang berkelakar dengan Darsa, sehingga oleh karena itu, terlintas di dalam benakku bahwa dia hanya seseorang yang dibawa oleh Darsa untuk menjadi pelayan baru di rumahku, sebagai asistennya.

Tak lama dari itu, setelah mandi, aku segera mengenakan gaun sutra tanpa lengan, dan duduk di kursi yang ada di galeri depan. Di sana, aku menikmati secangkir kopi sambil membaca Flash Gordon di majalah d’Orient yang Papa beli di Bandung, di toko buku Van Dorp.

Sementara itu, Sitih yang sudah bersamaku, sedang membuat potongan-potongan mangga setengah matang untukku. Ketika aku bertanya, di mana Darsa dan lainnya, Sitih menjawab bahwa mereka baru saja pergi ke bangunan belakang untuk istirahat dan makan.

“Oh” kataku dengan suara lemah, kemudian menyimpan majalah d’Orient ke atas meja.

Kupandang langit, tampaknya masih ada cahaya di kejauhan. Sementara itu, cabang-cabang pohon membentuk garis-garis silhuet yang muram.

Tidak lama lagi matahari akan terbenam, bergegas menuju malam, menuju kesunyian yang akan datang.

Ketika aku kembali ke kamar, suasana benar-benar terasa hening. Aku berbaring dan diam, dengan mata terbuka bersama perasaan yang tidak aku pahami, di suatu tempat nun jauh di dalam diriku.

***

Besoknya, sore di hari Selasa, itu adalah hari libur nasional, aku sedang berada di dalam mobil, bersama Papa, Mama dan Marwan, untuk perjalanan pulang setelah berkunjung ke Bandoeng dan mampir sebentar ke rumah Wedana Banjaran.

Itu adalah hari yang indah bersama anginnya yang sejuk. Lembah-lembah tampak sunyi. Sinar matahari berada di antara awan musim kemarau yang putih dan sepi, menumpahkan cahayanya ke atas kota Ciwidey dan bagian-bagian daerah lainnya.

“Hindia tanah penuh kemungkinan. Tak terbatas! Tanah masa depan. Ada pemandangan bagus di Hindia Belanda, yang harus dia pertimbangkan dengan baik,” kata Papa dalam bahasa Belanda kepada Mama.

Saat itu, Papa sedang membicarakan seseorang bernama Bijkman, yang tak lain adalah pamanku, yaitu adik dari Papaku. Papa ingin Paman Bijkman datang ke Hindia, ke Ciwidey, untuk menjadi asisten di perusahaan Papa.

Sebenarnya aku tidak benar-benar menyimak pembicaraan mereka. Sepertinya memang tidak menarik untuk anak gadis berusia tiga belas tahun, tetapi aku bisa mengerti apa yang sedang mereka katakan.

“Lagi pula dia masih punya harapan di Den Haag,” jawab Mama.

“Apa yang dia harapkan dari Den Haag?” tanya Papa seperti kepada dirinya sendiri. “Itu hanya membuang-buang waktu saja!”

“Menurutmu begitu?” tanya Mama, yang duduk di jok belakang bersamaku.

“Pasti karena perempuan Polandia itu,” Papa berseru. “Dia sudah menghipnotis Bijkman,” katanya.

Perempuan Polandia yang dimaksud Papa adalah Tante Gracja. Dia istri dari paman Bijkman.

“Harusnya dia melihat dulu ke sini,” kata Papa.

Mama diam, seperti merasa tidak perlu bicara lagi.

“Apa dia tidak bisa melawan si Polandia itu?” tanya Papa. “Dia harus tahu, Hindia tanah menjanjikan. Ada tanah bagus di Hindia, yang harus dia tahu. Tidak ada yang berubah soal ini. Untuk apa dia mengurus partai politik omong kosong itu?”

Tidak ada suara lagi yang keluar dari mulut Mama, karena Mama sudah tertidur tanpa sepengetahuan Papa.

***

Mobil mulai melewati jembatan sungai yang menghubungkan daerah Soreang dan Ciwidey.

Sejauh mata memandang, tampak pohon-pohon penuh daun, bergoyang ditiup oleh angin dan menyebarkan warna kuning keemasan. Begitu indah, diberi cahaya matahari, yang sudah siap-siap mau tenggelam satu jam lagi.

Kami bisa mendengar suara tonggeret di balik pohon-pohon, dan juga suara monyet yang sedang berloncatan di antara dahan-dahan pepohonan, bersaing dengan dengungan mesin mobil Ford yang berat.

“Oh, kau tahu pohon itu sangat aku kagumi, aku ingin memiliki yang seperti itu.” kata Papa sambil menunjuk ke arah di mana terdapat pohon Tabebuya dengan warna bunganya yang orange.

“Mama …” Dengan lembut dan suara yang pelan, aku menggoyang-goyangkan tangan Mama.

Ketika Mama membuka matanya, dia terlihat sedikit bingung pada awalnya, tapi kemudian dia sadar bahwa dia berada di mobil.

“Apa?” katanya, gugup, memandangku. Kumonyongkan mulutku untuk menunjuk ke arah Papa.

“Suruh nanti Darsa tanam pohon itu,” kata Papa, menoleh ke belakang secara tiba-tiba.

“Pohon apa?” Mama menggumam sambil mengerutkan kening di dahinya dan memperbaiki cara duduknya dengan gerakan sangat lelah.

Mama pasti tidak mengerti pohon apa yang sedang dibahas oleh Papa.

“Apakah kamu tidur?” tanya Papa.

“Hanya dua menit!” jawab Mama, setelah dirinya normal kembali.

Aku menahan senyum sambil memalingkan wajahku ke arah luar mobil ketika mendengar jawaban Mama.

“Perempuan seharusnya jangan banyak tidur. Harus mendengar sesuatu yang dikatakan oleh dunia,” kata Papa setelah menghela nafasnya.

“Dunia tidak berkata apa-apa juga,” Mama menggumam dengan acuh tak acuh.

“Hahaha”

Ketawaku meledak juga, meskipun sudah berusaha menahannya.

“Mengapa kau tertawa?” tanya Papa kepadaku dengan sedikit ketawa.

“Tidak, Papa,” jawabku. Sebetulnya aku belum bisa memutuskan untuk menjawab.

Kemudian, dalam beberapa menit, obrolan Mama dan Papa, beralih menjadi membahas anak muda yang bersama Darsa itu.

Tiba-tiba aku langsung ingat wajahnya. Kusimak pembicaraan Mama dan Papa dengan penuh konsentrasi, sambil mengigit-gigit pita yang tergantung dari kerah renda bajuku.

Mama melontarkan pandangan-pandangannya yang jujur tentang anak muda itu. Katanya anak muda itu adalah keponakan dari Darsa. Dia orang Bandung dan baru beberapa bulan pindah ke Ciwidey. Kedatangannya ke rumahku, hanya untuk menghabiskan waktu kosongnya dengan membantu Darsa di taman.  

“Tidak akan apa-apa dia?” tanya Papa ke Marwan. Barangkali Papa hanya kuatir anak itu akan jahat.

“Waspada sih perlu, Juragan.” jawab Marwan.

Apakah dia punya nama? Ini adalah pertanyaan yang aku tanyakan, setelah itu, kepada Marwan.

“Namanya Sukanta, Non” jawab Marwan langsung.

“Oh.”

“Tapi dipanggil Ukan,” kata Marwan menambahkan.

Marwan terus mengemudi.

Tidak ada hal lain yang aku lakukan setelah itu, selain meletakkan tanganku di bawah daguku, menempel di dinding mobil, memandang kosong keluar, memikirkan hal-hal yang sama sekali berbeda dari biasanya di sepanjang perjalanan.

***

Besoknya, di kamarku, sepulang dari sekolah, aku punya waktu untuk membaca surat dari Jozef, teman sekelasku. Dia adalah anak seorang direksi di salah satu perusahaan yang ada di Ciwidey.

Kubaca suratnya sambil duduk di kursi rotan dekat jendela:

Ledereen denkt aan jou. Je pin, je blouse, je jurk, je haar je lippen, je ogen, je neus, je stem. je bent als een volle maan. Ik hou van de volle maan Je bent als een oranje bloem. Ik hou van oranje bloemen Ik mis je altijd omdat. Ik van je hou.

Kupikir, puisi mungkin hadiah yang bagus, tetapi kalau Jozef bukan penyair, itu akan terasa menjadi biasa saja.

Aku menghela nafas, kuletakkan kertas itu di atas meja, lalu memandang ke luar jendela dan terkejut melihat anak muda itu sedang berdiri mengamati beberapa bunga mawar,  kira-kira dua meter dari jendela kamarku. Begitu dekat. 

Aku pikir, dia pasti tidak melihatku, sehingga aku merasa bisa bebas mengawasinya dengan cermat, serius dan penuh perhatian. Tapi beberapa menit kemudian, tanpa bisa kuduga, dia berbalik dengan pundaknya dan menoleh ke arahku.

Kami menjadi saling beradu pandang. Itu cukup mengejutkan. Lalu dengan gerakan yang cepat, kuambil lagi surat Jozef, untuk pura-pura kubaca dengan cara menunduk. Aku berharap dia tidak akan melihat keterkejutanku.

Di saat itu, darahku langsung seperti mengalir deras ke dalam kepalaku. Jantungku seperti menabrak tulang rusukku. Aku merasa diriku memerah. Wajahku pasti pucat.

Dalam keadaan masih menunduk, aku mencoba mengintipnya melalui bulu mataku secara diam-diam, ternyata Ukan sudah tidak kulihat lagi di sana. Entah kemana.

***

Dua hari kemudian, aku menerima kunjungan dari seorang gadis Belanda bertubuh kurus. Dia adalah Tineke, anak dari saudara jauhku yang tinggal di Batavia. Usianya lebih tua tiga tahun dariku dan sekolah di MULO, Batavia. Rambutnya warna pirang seperti pasir pantai, dan dijalin dalam dua kepangan yang tipis, menyisakan poni kuda di dahinya.

Dia adalah seorang gadis yang ceria, energik, antusias dan penuh perhatian. Dia mampu mengadakan percakapan yang menarik dan akan selalu siap untuk itu. Dia tidak takut pada keakraban dan benar-benar tahu bagaimana bersenang-senang. Bagiku, terlepas dari semua itu, dia selalu tampil menjadi seorang gadis dewasa yang bijak.

Satu atau dua kali setahun, Tineke suka datang ke Ciwidey untuk menghabiskan sisa waktu liburannya. Dia, memang, sangat menyukai alam pegunungan.

Dan, mulai hari itu, sampai dua hari ke depan, dia akan tinggal di rumahku untuk menikmati liburannya di Ciwidey.

Sementara itu, Ayah dan ibunya kembali lagi ke Bandung karena harus menghadiri beberapa kegiatan di sana.

***

Keesokan harinya, di kamarku, aku dan Tineke sedang duduk di kursi rotan bersama secangkir susu cokelat.

Kami mengadakan percakapan ringan, sore itu, dengan jendela yang terbuka, saling bicara tentang apa saja dan segalanya, sampai tiba-tiba Tineke berseru:

“Hey!!!”

Dia bicara lebih keras daripada yang diperlukan. Tentu saja, itu sangat mengejutkan. Mata dan mulutnya sedikit terbuka.

“Kenapa?” kutanya.

Kemudian dengan mata sedikit ditekan, dia berkata:

“Siapa itu?”

Dia bertanya dengan brutal. Sekarang dia sudah mencondongkan badanya ke ambang jendela, memandang keluar.

Baru kusadari kemudian, ternyata orang yang Tineke maksud adalah Ukan. Ya, dia berbicara kepadaku tentang tentang anak laki-laki itu. Seolah-olah Ukan sudah memikatnya dengan cara apa pun!

Asal tahu saja, ini rahasia negara, di kalangan kami, gadis-gadis Belanda selalu menganggap anak laki-laki Hindia itu menarik, sebagaimana anak-anak perempuan Hindia yang menyukai anak laki-laki Belanda.

“Pantas kau betah di Ciwidey. Rupanya ada anak tampan di sini,” katanya, kemudian memandangku.

“Kau boleh buka mata,” kataku tertawa dan menarik diri, untuk sedikit memberi kesan bahwa aku biasa-biasa saja dan tidak tertarik untuk membahasnya.

Dia tersenyum penuh gairah, kemudian menggelengkan kepalanya menanggapi reaksiku.

“Apakah aku terlalu berlebihan?”

“Ya. Mungkin,” kujawab.

“Ada banyak wanita sepertiku,” katanya, ketawa.

Lalu, dia meraih cangkirnya dan berkata dengan nada seolah-olah dia baru saja membuat hasil renungan:

“Kamu harus melihat dia dengan cermat, Helen!”

“Mengapa?”

“Dia tampan, bukan?”

“Hai, sudah,” kataku dengan sedikit tertawa.

Dalam hati, sebetulnya aku setuju dengan pendapat Tineke, tetapi aku tidak ingin mengakuinya dengan cara mengatakan kepadanya. Aku bukan Tineke. Aku tidak bisa seperti Tineke, meskipun ingin.

“Pergi dan katakan padanya, di sini ada Tineke!!!” katanya, dengan bersikap jenaka untuk mulai bercanda dengan hal itu.

“Diam, jangan katakan apa-apa, dia akan segera menemukanmu sebagai gadis cerewet.”

“Jadi? Menurutmu, haruskah wanita itu tetap manis dan duduk menunggu? Hanya diam di kamar sepanjang waktu?”

Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Aku hanya bisa mengangkat bahuku.

“Aku harus memanggilnya Clark Gable, karena kupikir dia terlihat seperti itu, Helen” katanya dengan tertawa. Kamu tidak akan percaya, tapi itulah yang Tineke katakan. Tineke juga mengatakan kepadaku bahwa semua laki-laki tampan itu, penting bagi wanita yang ingin membangkitkan minat menjalankan kehidupan.

“Itu namanya Sukanta,” kataku. “Tapi dipanggil Ukan.”

“Ukan?”

“Ya. Dia orang Bandung, baru pindah ke Ciwidey.”

“Kerja apa dia?”

“Dia bukan pelayan. Dia hanya ikut untuk bermain bersama pamannya, yang kerja mengurus taman dan kebun.”

“Bagaimana kamu tahu semua itu, Helen?” Dia mengatakannya dengan tertawa keras dan menggoda. Pada saat itu, reaksiku adalah memberi dia senyuman.

“Apakah dia mengetahuimu?”  tanya Tineke.

“Ya, dia tahu.”

“Apakah dia tidak menginginkanmu, Helen?”

Aku mengangkat bahu:

“Kami tidak saling mengenal,” kataku.

“Oh, sayang sekali.”

***

Kemudian, secara perlahan, dia bangkit dengan wajah serius dan tegas. Tineke mengajak aku untuk duduk di galeri depan. Dan, katanya dia ingin berkenalan dengan Ukan.

“Apa maksudmu?,” kataku, sedikit agak terkejut dengan idenya.

Dia, memang, salah satu gadis yang susah diduga, selain selalu mengira dirinya dilindungi oleh Hera, istri Zeus, ratu para dewa.

“Tidak diketahui, tidak dicintai!”  jawab Tineke tersenyum, dan itu adalah pepatah Belanda. “Aku ingin mengenalnya.”

“Kamu saja. Aku biar di sini”

“Ayolah! Demi kepentingan hati nurani. Lagipula kita sudah dewasa, Helen, dan dilindungi oleh negara” katanya penuh antusias dan tertawa.  Diam-diam, aku memuji keseriusan niatnya.

Tiba-tiba terjadi desakan, sehingga akhirnya aku ikut juga dengannya dan mengambil tempat duduk masing-masing di galeri depan.

Aku duduk di kursi rotan, sementara Tineke duduk di pagar tembok galeri di sela-sela jejeran pot bunga. 

“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” kutanya sebelum dia berkata apa pun.

Dia berpikir sejenak, kemudian berdiri dari duduknya, berjalan mendekatiku. Giginya yang putih, tersenyum.

“Apakah kamu mau ikut denganku?”

Katanya sambil mengernyitkan matanya.

“Tidak. Aku di sini saja.”” kataku sedikit gelagapan. Aku lebih suka untuk tidak melangkah lebih jauh.

“Jika aku tidak kembali, tolong sampaikan kepada ayah ibuku, aku mencintainya!!!” Tineke mengatakannya sebagai lelucon sambil tertawa, membungkuk ke arahku. Sikapnya menunjukan bahwa segalanya akan siap dimulai.

“Ya, aku percaya padamu,” kataku dengan tersenyum samar. 

“Baiklah, Nona. Aku akan kembali sebentar lagi,” kata Tineke sambil mulai berjalan dengan keanggunan yang luar biasa dari gerakan tangannya. Aku menegang, seolah-olah surga pun ikut menahan napasnya.

Tidak lama dari itu, dia sudah berdiri, berhadapan dengan Ukan yang tidak dikenalnya. Entah apa yang mereka bicarakan tetapi itulah yang terjadi. Aku menggelengkan kepala untuk apa yang dilakukan oleh Tineke.

Diam-diam, aku merasa bingung: Bagaimana Tineke akan berkomunikasi dengan Ukan, sementara Tineke tidak fasih Bahasa Melayu dan Ukan mungkin tidak bisa berbahasa Belanda?

“Dia sedikit bisa Bahasa Belanda,” kata Tineke ketika sudah kembali dan duduk bersamaku lagi di galeri.

“Oh ya?”

Aku baru tahu.

“Kau belum pernah berbicara dengannya?”

Aku menggelengkan kepala.

“Aduh, kasian …” Tineke menggumam dalam Bahasa Melayu yang membuat aku tersenyum.

“Demi Zeus! Jika semua orang Hindia yang aku temui seperti dia, aku akan kesulitan memilih,” katanya, melanjutkan. 

“Apakah kamu mau?”

“Katakan padanya,” kata Tineke kembali berbahasa Belanda. “Bersabarlah sebentar, ketika aku kembali lagi ke sini, dia akan menjadi milikku.”

Tineke ketawa. Aku juga ketawa.

***

Besoknya, Ayah dan Ibunya Tineke datang lagi ke Ciwidey, untuk menjemput dan membawa Tineke kembali ke Batavia karena liburan Tineke sudah berakhir.

Ketika jam perpisahan itu tiba, aku, Mama, Papa, orang tua Tineke dan Tineke sendiri, sudah berada di depan rumah.

“Baiklah, selamat tinggal, Sayang. Sampaikan Salam dariku untuknya,” kata Tineke sambil tersenyum lebar.

Mereka pergi. Aku terus melambaikan tangan, sampai mobil yang membawa Tineke menghilang di tikungan.

Itu adalah sebuah perpisahan sederhana, tetapi cukup kuat, untuk menempatkan diriku kembali ke latar belakang hidup yang sunyi.

Kepergiannya langsung menyisakan kekosongan dan rasa hening.

Di malam hari, aku berbaring di tempat tidur sambil mendengarkan angin menderu di luar, melalui cabang-cabang pohon, di lembah, dan di antara gunung-gunung yang gelap, aku sendirian, merasa tanpa kekuatan. 

***

Hari berlalu dan lambat. Sepulang dari sekolah, aku melihat Ukan sedang duduk di bangku besi.

Entah bagaimana, saat itu, muncul keinginan yang mendalam untuk berbicara dengan Ukan seperti yang pernah Tineke lakukan. Bisakah aku seberani Tineke?

Kemudian, setelah mengumpulkan cukup keberanian, dan berusaha membasahi bibirku yang terasa kering, aku mulai bergerak perlahan ke arahnya.

Pada saat aku sudah berdiri, berhadapan dengannya, aku hampir tidak percaya bahwa itu benar-benar terjadi. Aku lebih tinggi darinya, sedikit.

Ukan sekarang menatapku dengan sikap yang hampir penuh rasa hormat. Aku juga seperti itu, dan tersenyum untuk menunjukkan lesung pipiku.

Ia, sama sekali, tidak memiliki sikap merasa inferior sebagaimana pada umumnya anak-anak pribumi. Dan, kamu seharusnya bisa melihat, bagaimana Ukan hampir tidak memiliki kesusahan untuk menatapku.

“Hey!” kataku ramah, memulai.

Suaraku terdengar sedikit serak dan agak gugup oleh emosi baruku. Apakah Tineke juga mengalami hal sama denganku?

“Iya?,” katanya.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” kutanya dalam Bahasa Belanda.

“Hanya main-main saja,” jawab Ukan dengan sangat tenang, menggunakan Bahasa Belanda, meskipun diucapkan dengan cara yang aneh bagiku.

 “Kamu dipanggil Ukan?” tanyaku, kembali memandang wajahnya, menggunakan bahasa Melayu.

Ada kejutan menyala di matanya, saat dia sadar aku mengetahui namanya. Itu tampak seperti alasan yang sah.

“Oh? Iya. Aku Ukan. Aku tidak berbahaya.” Katanya dengan nada yang agak bercanda.

Aku tertawa mendengar jawabannya.

“Aku Helen,” kataku dengan pelan, memperkenalkan diriku.

Kemudian, ada kerutan yang menyenangkan di matanya. Itulah yang aku lihat darinya. 

“Oh. Iya” jawab Ukan. “Sekarang aku tahu namamu.”

“Terimakasih,” kataku.

Sesaat itu, aku sendiri bingung, mengapa harus mengucapkan: Terimakasih. Apa kaitannya?

“Kamar Nona di sana?” tanya Ukan menunjuk ke arah kamarku.

“Ya. Aku pikir, kamu sudah tahu.”

“Aku suka mendengar biolamu.” katanya dengan aksen yang sopan. “Apakah kamu pemain biola?”

“Oh ya?”  Aku tersenyum.

Aku tidak menyangka dia pernah mendengar aku bermain biola. Kapan? Lalu kataku kepadanya:

“Tidak. Hanya main biola biasa.”

Ukan tersenyum lebar dengan wajah yang dapat disebut mempesona.

“Apa kamu itu saudaranya Darsa?” kutanya.

“Iya, aku saudaranya Darsa, Non.”

“Jangan panggil aku: Non. Panggil saja aku Helen.”

“Oh, iya. Helen … ” katanya langsung.

“Kamu mau kue?” tanyaku kemudian mencoba bicara dengan tenang. “Katakan iya, katakana iya”, melintas di benakku. Matanya memandangku dengan heran.

“Tidak usah. Terimakasih,”

“Kamu harus mau!” kataku, memaksa. Aku merasa seperti mulai sedikit lebih percaya diri.

“Oh,”

“Tetaplah disini. Aku akan mengambil makanan,” kataku sambil berbalik dan berjalan pergi menuju ruang tengah dan mengambil satu paket passbrood8 di dalam lemari yang aku dapatkan pada acara Paskah kemarin.

Ukan mulai berdiri dari bangku taman ketika melihat aku datang kembali.

“Ini … “ kataku sambil menjulurkan kedua tanganku, menyodorkan kue ke Ukan dengan gerakan ragu-ragu. ”Untuk kamu.”

“Terimakasih,” katanya, bersamaan dengan datangnya Darsa.

“Ini, keponakan Darsa, Non.”

“Dia sudah tahu, Mang” jawab Ukan menyela. Senyum jatuh dari wajahnya.

Aku tersenyum kepadanya.

***

Di hari berikutnya, Ukan tidak pernah datang lagi ke rumahku. Aku tidak tahu mengapa. Malu rasanya untuk bertanya kepada Darsa.

Sejak itu, aku menemukan diriku terus berpikir tentang Ukan. Ini tidak berlebihan. Ini memang benar-benar kualami. Bahkan aku sendiri tidak percaya bahwa hal seperti itu dapat terjadi kepadaku. Dan, aku tidak ingin berbicara dengan siapa pun tentang hal itu.

Tiba-tiba, aku merasa telah kehilangan dirinya. Aku seperti merasakan ada kesunyian yang ringan di dalam diriku sore itu. Berdiri di kamar, memandang ke luar jendela, melihat dua burung kecil melompat dari pohon dan mencelupkan kepalanya ke air kolam sebelum dia terbang kembali.

***

Malam itu, Sitih masih ada di kamarku. Aku mulai membicarakan Ukan dengan Sitih melalui cara diplomatis, seolah-olah aku tidak pernah memikirkannya.

Tidak banyak, itu hanya beberapa kata, aku hanya ingin tahu mengapa Ukan tidak pernah datang lagi ke rumahku.

“Kata Darsa, dia sedang pergi ke Bandung”

Itu jawaban Sitih. 

“Oh,” kataku.

Cukup! Tidak perlu ada penjelasan lain lagi.

Dua hari kemudian, aku tahu bagaimana rasanya senang, ketika mulai menemui Ukan, sore itu, di taman. Aku ingin mengucapkan terima kasih sudah datang lagi ke rumahku, tetapi susah rasanya. Jadi, aku hanya bisa menyapanya:

“Hey.”

“Bagaimana kabarmu?” tanya Ukan. Kedengarannya sangat manis.

“Bagus.”

“Apakah itu benar?”

Hah?

Aku ketawa, aku tidak menyangka dia akan mengajukan pertanyaan aneh seperti itu. Aku langsung menyadari sedang berurusan dengan selera humor yang cukup praktis.

“Aku tahu pasti diriku,” kataku tersenyum, mencoba mengimbangi caranya berpikir.

“Aku tidak tahu apa-apa tentang kamu.” Katanya.

Dia menatapku dengan jenaka.

Aku merasa terjebak di tengah kata-katanya, sehingga hanya bisa ketawa. Aku tidak punya jawaban aneh untuk bisa menandinginya.

Sekarang, aku harus mengatakan bahwa aku langsung merasa senang berbicara dengannya. Tapi Ukan mengakui, dia memiliki masalah dengan bahasa Belanda. Memang, selalu ada kata-kata bahasa Belanda yang tidak jelas bagiku. Jadi, akhirnya kami berbicara menggunakan bahasa Melayu dari semenjak saat itu.

Ukan selalu datang ke rumahku, hampir setiap sore. Itu selalu sangat menyenangkan. Dia cukup ramah dan sangat mudah diajak bicara, mengalir begitu alami. Rasanya seperti sudah lama saling mengenal.

Kadang-kadang bersama Ukan, di hari-hari berikutnya, aku ikut membantu Darsa memotong rumput, mengikat batang-batang bunga Mawar, dan semua pepohonan akan disiram setelah senja.

Jika tidak ada hal lain yang harus kami lakukan, Ukan mengajakku menangkap capung dengan menggunakan lidi yang diujungnya diberi getah lengket dari pohon. Aku merasa bahagia oleh itu, meskipun membuat lelah dan duduk istirahat di kursi besi bersama Ukan.

Sesaat kemudian aku izin pergi ke dapur, mengambil segelas air dan kue untuk Ukan. Aku merasa kagum melihat diriku sendiri, yang biasanya dilayani, sekarang melayani orang untuk pertama kalinya dalam hidupku. Itu tidak direncanakan, tetapi segalanya berjalan sangat baik. Aku telah membuat terobosan ini dengan mudah. Sesuatu yang sangat menyenangkan.

“Terimakasih,” katanya dengan tenang meraih cangkir porselen biru berisi limun yang aku sodorkan kepadanya.

“Di sini bagus dan segar,” kataku.

Ada perasaan intim yang lembut untuk bersama.

“Iya,”

Dia berseru riang, setelah minum secangkir limun. Dia, memang, selalu sangat ceria.

“Aku mau main biola!” kataku menatapnya, lalu langsung berdiri dari dudukku dengan rasa gembira yang tidak bisa kusembunyikan. “Tunggu, ya. Aku akan mengambilnya.”

Aku lari ke kamar, tidak lama kemudian sudah kembali membawa biola dan duduk lagi di kursi besi bersama Ukan sambil meletakkan biola di leher dan mulai mendengungkan sebuah lagu sederhana dari Strauss, dalam suasana hati yang baik. Seolah-olah lagu itu aku mainkan untuk menghormati Ukan.

Ukan memandangku, menyerah pada suara lembut biolaku. Seolah-olah aku mendengar darahnya bernyanyi di keningnya. Dan aku bisa merasakan ada sesuatu yang menyengat di mata coklat cerahnya itu.

Ketika aku menyelesaikan lagu kedua, tiba-tiba aku mendengar suara tepuk tangan dari arah belakang, mereka adalah Sitih dan Darsa yang tidak kusadari diam-diam mendengarkan alunan biolaku. Aku sangat terkejut oleh suara tak terduga itu, sekaligus juga membuat aku tersipu malu.

Beberap saat kemudian, Mama muncul di ambang pintu. Dia telah mendengar suara biola dan juga ikut bertepuk tangan. Aku langsung meletakkan biola dan berlari ke arahnya yang sudah duduk di kursi galeri depan. Kulingkarkan lenganku di lehernya, kemudian menempelkan wajahku yang tersenyum ke pipi Mama.

Semua, akhirnya, hidup menjadi terasa sangat manis.

***

Pada dasarnya, Mama cukup menyukai keberadaan Ukan. Aku menduga, persahabatan antara aku dan Ukan sedikit bisa meringankan beban Mama. Dia mungkin berpikir, kehadiran Ukan, bisa menjadi bagian dari pengasuhanku.

Ukan bisa menjadi teman untuk aku bisa hidup menjadi diriku yang riang. Aku menjadi lebih lincah daripada sebelumnya. Ini berarti, Ukan telah mengambil tempat yang sangat penting dalam hidupku.

Papa pasti memiliki pendapatnya sendiri tentang persahabatanku dengan Ukan, tetapi aku tidak tahu. Papa, selalu sibuk bekerja dan bepergian, sehingga dia tidak begitu banyak mengetahui keberadaan Ukan di rumah.

***

Demikianlah kisah awal aku mulai dekat dengan Ukan bersama banyak bunga indah yang berserakan di halaman. Bagaimanapun juga, keadaanku menjadi lebih baik sekarang, setelah mengalami kesunyian yang panjang. 

Ketika aku dan Ukan bertemu lagi sore itu, kami bermain di kebun sebelah, yang ada di samping rumahku. Agak berangin saat itu, tetapi cuacanya cukup ringan. Aku masih ingat bahwa itu jam satu siang.

“Pohon apa ini namanya, Ukan?” kutanya Ukan.

“Coba tanya ke pohonnya.” jawab Ukan.

“Dia tidak bisa bicara, Ukan.”

“Sebentar …” katanya.

Aku mengikuti Ukan, yang maju beberapa langkah, berjalan mendekati pohon itu, dan yang kemudian dia lakukan adalah mengetuk-ngetukan jari tangannya ke batang pohon. 

“Siapa namamu?” tanya Ukan, lalu mendekatkan telinganya pada batang pohon itu. Jadi, apa yang dia lakukan seperti ingin mendengar apa yang akan pohon katakan kepadanya. Aku menyaksikannya dengan penuh perhatian.

Aku hanya diam mengernyitkan dahi karena merasa aneh oleh apa yang dilakukannya.

“Siapa?” tanya Ukan lagi kepada pohon, seperti meminta pohon itu mengulang lagi jawabannya.

“Oh … ” kata Ukan kemudian.

“Betul dia bisa bicara, Ukan?”

“Iya.”

“Siapa dia punya nama, Ukan?”

“Namanya Rasamala.”

Dan itu benar, karena aku sudah tahu nama pohon itu sejak lama. Aku hanya berpura-pura tidak tahu.

“Hahaha.”

“Ini pohon Rasamala,” kata Ukan, mengulang.

“Hai, Rasamala!” aku menyapa pohon rasamala.

“Ini namanya Helen,” kata Ukan memperkenalkan diriku kepada pohon rasamala sambil menunjukku.

“Kalau ini, namanya Ukan,” kataku sambil terkekeh kepada pohon rasamala. Tanganku menunjuk Ukan. Aku mendapatkan diriku mulai mencoba meniru perilakunya. Ukan tertawa pelan.

“Apa dia minta kue, Ukan?”

“Kamu mau kue?” tanya Ukan kepada pohon rasamala, tetapi pohon itu tetap diam. Tentu saja.

Angin bertiup menggoyangkan daun-daun pohon rasamala. Kemudian Ukan kembali mendekatkan telingannya ke batang pohon rasamala itu.

“Bicara apa dia, Ukan?” kutanya Ukan dengan betul-betul ingin tahu, meskipun aku yakin pohon rasamala tidak akan bicara.

“Dia pingin minum,” jawab Ukan.

“Kasih dia, Ukan,” kataku langsung.

“Iya,” jawab Ukan.

“Helen!!” tiba-tiba Mama memanggilku. Berdiri di samping galeri depan, menghadap ke arah kebun.

“Ya, Mama!”

“Mrs. De Hun sudah siap”

“Oh!”

Mrs. De Hun adalah guru privatku. Dia seorang wanita tua Belanda yang cenderung membungkuk dan terlihat agak gemuk. Dia selalu menggunakan sepatu hak tinggi yang akan melahirkan bunyi ketika dia berjalan di lantai. Usianya saat itu sudah empat puluh tahun. Dia sama dengan guru-guru lainnya yang selalu memberi aku tumpukan pekerjaan rumah.

Hari itu, aku harus menerima pelajaran matematika darinya, selama dua jam penuh pada waktu yang tetap di hari Kamis. 

 “Ukan, aku belajar dulu,” kataku. “Tunggu di sini. Aku akan kembali sebentar lagi.”

“Iya”

“Kamu mau kemana?”

“Aku di sini.”

“Baiklah kalau begitu. Tunggu ya?”

“Iya.”

Bagiku, sekarang, duduk di serambi dengan seorang guru yang memberiku pelajaran les privat adalah penderitaan. Benar-benar, hidupku menjadi seperti sedang berhenti. 

Setelah pelajaran selesai, aku bisa bernafas lega kembali, dan segera meninggalkan Mrs De Hun yang sudah mulai bercakap-cakap dengan Mama di depan rumah. Entah tentang apa. Mungkin mengeluhkan rematiknya lagi, seperti biasa, atau rasa sakit yang selalu ia derita di bahu kirinya.

Ketika aku kembali ke halaman, aku berpikir akan bertemu dengan Ukan. Kenyataannya aku tidak melihat ada Ukan. Aku memandang sekeliling dengan sedih.

“Apakah Sitih melihat Ukan?”

“Sitih tidak tahu,” katanya, “tidak melihatnya.”

“Mencari Ukan, Non?” tiba-tiba Darsa datang, berdiri di sebelah kami.

            “Iya, Darsa” kataku sambil mengusap pipiku.

“Tadi dia bilang ke Darsa, katanya sampaikan ke Non Helen, dia mau pulang dulu.”

Aku langsung merasa kecewa dan masuk ke kamar dengan membanting pintu seolah-olah aku tidak akan pernah keluar lagi.

 Dengan rasa kecewa dan mata air mata, kuhempaskan diriku di kasur. Tentu saja itu berlebihan, aku tahu, tetapi dulu rasanya begitu. Dan, itulah yang terjadi. 

“Kenapa?” tanya Mama, beberapa saat setelah dia masuk dan duduk di samping tempat tidurku.

“Ukan pergi.” Aku berkata dengan masam.

“Oh …”

“Aku ingin Ukan jangan pergi, hanya itu.”

“Besok Ukan bisa kesini lagi. Sekarang kamu tidur siang dulu.”

Setelah Mama pergi, aku berdiri di atas kakiku dan melihat ke luar jendela.

Di langit, awan mendung, menggantung. Wajahku memandang pada guntur bersama rasa kesal kepada Ukan yang dibebankan pada diriku.

Aku menghela nafas dan bergegas memakai mantel wol warna biru tua ku, lalu meloncat dari jendela kamar dan lari dengan muram, melalui jalan belakang, mencari Ukan.

Setelah beberapa pencarian, Ukan bisa aku temukan sedang duduk bersama Wiranta dan Sastra. Aku mulai berjalan lebih lambat, lalu berhenti di tempa yang sedikit lebih jauh darinya.

“Ukaaan!!!”

Aku berteriak, hampir harus dengan menangis. Dan jelas, itu aku tujukan kepadanya.

Ukan, Sastra dan Wiranta menoleh. Mereka tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Kemudian Ukan bangkit dan berjalan ke arahku yang masih berdiri di tempat, cemberut menatapnya. Aku, hanya seperti itu.

Sebelum Ukan sampai, aku berbalik dengan cepat, dan lari. Ukan mengejarku tetapi dia bergerak lebih cepat dan berhasil menyusulku.

Ukan memahami arti dari air mataku, sehingga tidak perlu mengatakan apa-apa. Wajahnya berpikir merasa sangat menyesal karena sudah membuat aku marah, tapi dia bisa menjaga emosinya dengan baik.

 “Maaf,” katanya, setelah berdiri di depanku. Bibirnya sedikit bergetar. “Tadi mau kembali, dipikir kamu belum selesa!” 

Aku rapatkan bibirku dan mendelik kepadanya, lalu mengangguk. Tidak ada alasan untuk mengasihani diri sendiri.

Ketika Ukan mengantar aku pulang, kami saling diam, berjalan di sepanjang jalur pedesaan yang sepi. Sementara itu, gerimis di Ciwidey sudah mulai turun, membasahi daun-daun di dalam sore yang sudah tiba.

Kami berpisah di dekat jembatan batu. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Ukan, tetapi aku tidak tahu caranya.

“Kapan aku akan melihatmu lagi?” kutanya dia.

“Besok, ya.”

“Ke rumah?”

“Iya.”

“Hati-hati, Ukan, ” kataku.

Ukan pergi, aku menjadi sendirian, berdiri di gerbang pintu belakang, dengan keresahan yang samar, dan hampa. Udara dipenuhi butiran-butiran air lembut, menerpa mukaku.

***

Persahabatanku dengan Ukan didasarkan pada hal-hal yang kami lakukan bersama-sama, kemudian lambat laun bisa menemukan keasikan di dalam bentuk permainan yang lainnya.

Kelak, seiring berjalannya waktu, Ukan akan menjadi orang yang selalu bersama di dalam tahap perkembangan hingga kami tumbuh dewasa.

Suatu hari, Mama sedang tidur siang, dan Papa belum pulang dari perusahaan, aku mengajak Ukan pergi ke atas bukit. Di sana kami menemukan jamur putih yang sangat besar, di balik semak-semak yang basah oleh hujan tadi pagi. 

“Bagaimana kalau kita naik lebih ke atas,” kataku ke Ukan, karena aku merasa masih punya banyak waktu, dan aku pikir aku harus pergi ke sana.

“Jangan,” katanya. “Nanti Mama marah!”

“Tidak apa-apa,” kataku memaksa “Mama sedang tidur siang! Ayo!”

Kami berjalan melintasi kebun-kebun teh yang luas, yang hanya dapat diakses dengan cara berjalan kaki. Melewati kebun-kebun kopi tua milik pemerintah, menyusuri anak sungai yang licin di antara alang-alang yang tinggi, dan melewati sebuah jembatan yang dibangun dari bambu tetapi aku bisa melewatinya karena dibantu oleh Ukan dengan cara memegang tanganku.

Ukan memiliki kewaspadaan yang penuh, seolah-olah dia bertanggung jawab atas keinginanku, naik ke bukit yang paling atas dan sampai dengan selamat.

Ukan memotong semak-semak dan cabang-cabang pohon dengan menggunakan tangannya, untuk membuat kami bisa sampai ke atas bukit yang sepi, seperti sebuah tempat yang jarang dikunjungi, jauh dari budaya dan peradaban.

Di sana, semuanya berbau tanah dan daun seperti sesuatu yang liar. Kesejukan angin yang segar berhembus ke arahku, ketika kami sudah duduk di tempat yang tidak terduga, karena merasa kelelahan.

Aku bisa memandang ke lembah, di mana awan berangsur-angsur naik dengan megahnya, memberi jalan cahaya matahari, untuk membuat warna yang indah alami di langit. Aku bisa melihat jalur sungai yang berliku-liku di bawah sana, di antara ribuan mahkota pepohonan. Aku bisa melihat hamparan perkebunan seperti sehelai permadani raksasa. Di atasnya, hutan basah berkabut.

Di mana-mana adalah kehijauan abadi dan kehidupan yang segar bersama keheningannya yang mulia. Cahaya senja menggelepar di angkasa. Hidup bergetar di udara.

Semua yang aku lihat begitu mempesona. Sensasi yang paling menyenangkan, membanjiri pikiranku.

Itu adalah sore yang indah, di pertengahan bulan Juni. Penuh rasa hormat, penuh rasa suka. Sebuah perjalanan hebat dan mengagumkan, yang belum pernah aku lihat sebelumnya, sebagai salah satu sumber nostalgia yang tak mudah dilupakan, tentang waktu yang menyenangkan bersama Ukan, seperti mimpi yang nyata. 

“Terpujilah pencipta Lembah.”

Kata Ukan, di ujung lembah sana, ada seorang pangeran tampan, sedang menunggu di tepi sungai. Kalau aku bisa mendengarnya dengan baik, aku akan bisa mendengar Pangeran Tampan itu sedang memanggil namaku.

Suatu pikiran mengatakan apa yang terlintas dalam pikiran.

“Aku boleh memanggilnya?”

 “Memang kamu tahu namanya?” jawab Ukan.

Aku mengabaikan pertanyaannya dan mulai berteriak:

“Ukaaan!!!”

Aku mendengar suaraku menggema di lembah. Ukan tertawa dengan mata terkejut, kemudian menggelengkan kepalanya.

“Ukaaaann!!!” Aku berteriak sekali lagi, membuat Ukan bergerak, mencoba membekap mulutku untuk jangan teriak lagi. Aku tertawa dan terus berteriak menyebut nama “Ukan” sambil meronta, mencoba melepaskan tangan Ukan yang terus ingin membekap mulutku.

Badanku sudah merosot terdorong oleh dirinya, hampir berbaring, sebelum aku menyadarinya. Tentu saja, kami tidak bermaksud membuat sesuatu yang lebih dari itu:

“Oke! Oke! Het is al genoeg!!!” kataku menjerit dalam tawa sampai membuat mataku berair. Kemudian Ukan menjadi tenang begitu saja, bersama kebahagiaan yang bisa kulihat di wajahnya yang gugup.

Dan begitulah.

Wajahku berkeringat. Rambutku sedikit berantakan. Ukan melirik wajahku sejenak, lalu memalingkan matanya kembali ke lembah.

Kami tetap diam untuk sementara waktu, bersama pikiran rahasia masing-masing, kemudian melanjutkan pembicaraan yang terputus.

Bagaimanapun, kami adalah manusia biasa.

***

Sebelum aku mengenal Ukan, aku hanya memiliki sedikit kemungkinan bisa merasakan kenikmatan lingkungan tempat di mana aku berada.

Sekarang, aku telah melihat dunia yang cantik luar biasa, yang telah membuat hidupku menjadi begitu manis menakjubkan.

Ukan menyikapi kehidupan dengan cara yang ingin aku lakukan bertahun-tahun yang lalu. Aku mengaguminya terlalu dalam untuk itu.

Kami pulang, dengan sedikit gerimis yang mengelilingi wajahku, berjalan turun melewati jalur berbeda, dengan membawa pelepah daun pisang yang memiliki fungsi sama seperti berada di bawah payung.

Tak lama kemudian, matahari dibawa oleh awan, hujan turun hanya sebentar. Cahaya matahari muncul kembali, bersama semua kemegahannya di arah sebelah barat.

Di perjalanan, aku memutuskan untuk menceritakan kepada Ukan tentang Jozef, karena aku pikir aku ingin menceritakan semua hal kepada Ukan, bahwa kemarin, setelah selesai pelajaran, Jozef mengajakku berjalan ke samping gedung sekolah, kemudian kami berdiri di sana, saling berhadapan.

Jozef memulai percakapan dengan berkata:

“Bagaimana kabarmu, Helen?”

“Apa yang mau kamu katakan?” kutanya. “Aku harus pulang.”

“Aku mau mengatakan kamu lebih cantik daripada Emma. Hanya itu.” jawab Jozef sedikit terburu-buru. Suaranya bergetar. “Aku tidak berbohong”

Aku menarik nafas dalam-dalam. Sebetulnya aku ingin tertawa tentang hal itu.

“Terimakasih,” kujawab. ”Hanya itu?”

 Dia menatapku seperti kucing liar.

“Apakah kamu tahu apa yang disebut rindu?”

“Apa itu?”

“Jika aku merindukanmu, aku harus berhati-hati dengan hawa dingin,” katanya. “Aku hanya membutuhkan kamar yang sunyi.”

Aku langsung mengernyitkan mataku. Aku bertanya-tanya apa maksudnya. Kata-katanya tidak masuk akalku. Jozef melanjutkan:

“Dengarkan dengan baik, aku mencintaimu.”

Dia meraih tanganku yang kemudian aku tepiskan.

“Bisakah kau benar-benar menyukaiku?,” katanya. Dia menatapku dengan aneh.

Aku terkejut dan tidak percaya Jozef akan bicara sembarangan. Napasku menekan ke dadaku.

“Sudah harus pulang,” kataku. “Bis menunggu.”

Jozef mengabaikan kata-kataku. Dia belum menyerah,

“Tunggu dulu, Helen”

“Apa lagi?”

Dia tampak tersenyum, seperti serigala. Bibirnya bergerak erat.

“Kau harus tahu, kau membuatku bergairah, Helen.”

Aku terkejut dengan apa yang dikatakannya dan gemetaran. Kemudian dia bergerak merangkulku, dan mulai menciumku. Itu mengerikan. Dia seperti baru saja disuntik, yang telah mengubahnya menjadi seperti binatang buas, atau minimal menjadi seperti beruang kesurupan. Aku menyadarinya dengan ketakutan. Ketakutanku seperti meledak ke udara, atau seperti badai. Kudorong Jozef dengan sentakan liar, sehingga membuat Jozef berada di jarak yang tidak bisa menyentuhku.

“Belanda aneh!” kataku, geram, mengakhiri ceritaku.

Itu adalah untuk pertama kalinya aku berbicara dengan Ukan tentang Jozef.

“Aku tidak mau berbicara dengannya lagi!”

Mendengar kisahku, Ukan ketawa. Dia setuju dengan apa yang sudah aku lakukan kepada Jozef.

“Dia harus dimasukan ke dalam botol,” katanya.

“Dan jangan dikasih makan.”

“Katakan pada Jozef, kapan dia akan berkelahi denganku?”

Aku tersenyum kepadanya.

“Baiklah.”

“Dia tidak bisa melukaimu.”

Sebelum pulang Ukan berkata bahwa besok sudah mulai memasuki bulan Ramadhan, dan dia berencana akan puasa. Katanya, kalau sudah puasa, tidak ada lagi makan jika ingin makan di siang hari. Kami semua harus makan pada waktu yang sama ketika maghrib.

“Minum?”

“Tidak boleh”

“Senyum?”

“Boleh”

***

Pukul setengah tiga malam, di masa awal bulan Ramadhan, aku terbangun oleh suara anak-anak pribumi yang sedang membangunkan orang muslim untuk sahur.

Mereka berkeliling membawa obor yang menyala-nyala, menembus kegelapan di sekitar jalan desa. Aku berpikir pasti ada Ukan di antara mereka.

Kubuka jendela dan memandang jauh ke pedesaan, di mana ada gerakan obor yang dibawa oleh mereka. Obor itu menyebarkan cahaya cemerlang ke sekeliling, seolah-olah mereka sedang mencari sesuatu di kegelapan. Itu menyala, menyala merah.

Aku ingin pergi ke sana, datang dan bergabung dengan mereka. Bukankah itu satu- hal yang mungkin? Aku memutuskan untuk menunggu momen yang lebih baik.

Dengan perlahan, aku mulai berjalan ke bangunan belakang, di sana selalu sangat sepi bagiku, dan bertanya-tanya apa yang bisa aku temukan di ruang makan.

Aku mendapatkan tumpukan roti dan melihat Sitih sendirian, sedang makan di galeri belakang di bawah cahaya lampu yang remang-remang.

Pada walanya, Sitih sedikit terkejut melihat kedatanganku, kemudian aku segera duduk dan makan dengannya sambil sesekali memandang ke luar, mengintip ke dalam kegelapan, dan bertanya-tanya apakah Ukan sudah sahur? Sunyi dan sepi.

Aku seperti itu sekarang. Bertahun-tahun tinggal di masyarakat muslim, baru kali itu, aku ikut makan sahur.

“Besok, aku mau puasa, Sitih.”

Aku pikir Sitih harus tahu dan langsung membuat Sitih kebingungan.

“Non Helen kan Kresten?”

“Tuhan bisa maklum, Sitih”

Sitih tidak berbicara sepatah kata pun, tetapi dia tertawa kecil.

***

Di hari lain, keinginanku untuk bergabung bersama anak-anak yang berkeliling membangunkan orang untuk sahur, terjadi, ketika aku diam-diam berjalan ke belakang rumahku dan pergi dengan cara meloncati pintu pagar belakang.

Itu pasti masih pukul tiga pagi. Tercium udara yang meresap dengan aroma tanaman dan lembab. Aku berjalan menembus jalan desa dengan gugup, tetapi penuh semangat. Menakutkan, dan jantung berdebar, tetapi aku ingin bergabung bersama Ukan dan kawan-kawannya, berkeliling desa, membawa obor. 

Tidak lama kemudian aku benar-benar sudah berdiri di lingkaran mereka yang terkejut melihat kedatanganku.

Ada Ukan di sana. Dia tampak sedikit bingung. Aku mengerti, dan hanya bisa tersenyum kaku kepadanya. Cahaya obor menyebar ke wajahku.

“Aku ikut,” kataku dengan wajah memohon, sambil membetulkan selimut yang membungkusku, karena dingin sekali waktu itu. Semua yang lain diam. Hanya melihat dan mendengarkan.

“Nanti Papamu marah” kata orang yang satu itu: Ukan.

“Mereka tidur,” kataku sambil terus menatap wajahnya, karena begitulah caraku memaksanya. Kemudian Ukan memandang kepada rekan-rekannya, meminta izin: Helen ikut.

Akhirnya, dalam kegembiraan yang tenang dan cahaya obor yang penuh, aku ikut berkeliling desa, menembus kabut malam yang tipis. Dan aku menjadi satu-satunya perempuan yang ada di sana. Putri Nyonya Maria.

“Sahuuur! Sahuuur!”

Terdengar serempak.

Dan begitulah yang terjadi. Ukan berjalan di sampingku seperti membawa beban menjaga keselamatanku. Setidaknya aku berpikir seperti itu pada diriku sendiri. Dan aku menjadi seperti bayangannya.

“Ukan, aku senang, ” kataku dari balik bahunya. Aku merasakannya begitu.

 “Iya,” jawab Ukan.

Dia tersenyum, membesarkan hatiku.

Aku sekarang menggigit apel yang kubawa, dan menyerahkan sisanya ke Ukan.

“Kamu sahur dulu,” kataku kepadanya di tengah suara orang-orang yang meneriakan kata sahur. “Tuhan memberkatimu!”

Dan kemudian hanya sebentar. Sekitar pukul setengah lima, dengan diantar oleh Ukan, aku sudah kembali ke kamar, dan jatuh ke dalam tidur yang manis.

Aku tidak menemukan kata yang tepat – itu luar biasa, jika aku boleh berpikir begitu. Aku senang dan semuanya berjalan dengan baik-baik saja, sampai aku terbangun kesiangan pagi harinya.

***

Berkaitan dengan adanya hari raya umat Islam, aku pergi ke rumah Ukan. Itu adalah kali kedua aku datang ke rumahnya, di mana saat itu, mereka serba menggunakan pakaian terbaik, merayakan hari lebaran dengan saling berkunjung untuk melakukan silaturahmi, dan saling bermaaf-maafan.

Di hari itu, setiap rumah biasanya memiliki aneka macam makanan khas lebaran, seperti ketupat, apem, opak, dan rengginang, tapi bukan karena itu aku senang berlama-lama di rumah Ukan.

Di sana, aku bisa menikmati banyak keramahan yang mereka berikan, di mana aku bisa berbicara begitu banyak dengan mereka, terutama dengan ibunya Ukan, yang biasa dipanggil Embu.  

Hari itu, aku membawa satu botol Sampanye persediaan Papa yang disimpan di dalam tempat semacam kulkas merk Frigidaire. Tentu saja, saat itu, aku belum mengerti bahwa di dalam syariat agama Islam ada larangan mengkonsumsi Alkohol.

Embu mengungkapkan keterkejutannya pada saat mendapat sampanye dariku tetapi tidak ada yang Embu katakan. Dia hanya bisa menerimanya untuk menghargai pemberianku.

Itulah Embu. Dia asli orang Ciwidey yang tinggal di Bandung karena menikah dengan ayahnya Ukan. Saat itu, usianya kurang lebih sudah empat puluh tahun. Rambutnya hitam sepinggang, wajahnya cantik, kulitnya coklat dan lebih halus dan lebih lembut, daripada ibu-ibu yang lain di sana.

Di mataku, Embu telah menjadi seorang wanita yang rendah hati. Ramah dan bermartabat. Pemikirannya, karakternya, perasaannya dan semua yang ada di dalam dirinya, menunjukkan bahwa dia adalah seorang Hindia sejati.

 “Gusti Allah sudah membuat Helen begitu murni dan cantik!,” katanya kepadaku dengan nada murah hati.

“Terimakasih, Embu”

***

Pada umumnya, orang-orang di sana, adalah orang-orang yang ramah. Aku menyukai orang-orang seperti mereka, yang menganut tradisi dan mempertahankan kepercayaan yang teguh kepada Tuhan dan tanah leluhurnya. Aku sangat terkesan oleh peradaban seperti itu.

Aku juga tidak pernah menyadari adanya perbedaan ras dan kelas di antara aku dengan mereka. Di sana, aku bisa merasakan adanya hubungan keluarga Hindia yang terjalin cukup erat, dan didukung oleh hati mereka yang terbuka.

Mereka bicara di dalam keramahan termasuk dengan tetangga. Orang tua dan anak muda saling bersimpati belajar hidup bersama.

Di rumah mereka, selalu ada ruang untuk kerabat yang membutuhkan tempat berlindung.

Hubunganku dengan Ukan, keluarganya dan orang-orang di sana, berkembang dari waktu ke waktu. Memberiku hari-hari yang membahagiakan, yang akan terlalu banyak kalau harus aku ceritakan semuanya.

***

Dan kamu harus tahu rumah Ukan.

Rumah Ukan terdiri dari dua kamar dan ruang tengah. Itu adalah rumah panggung yang berdiri di atas dasar batu setinggi lima puluh centimeter. Terdapat dapur yang ada hawunya, yaitu semacam perapian terbuka untuk memasak.

Aku selalu merasa lebih nyaman tinggal di rumah Ukan, daripada di rumahku yang dipenuhi ruangan-ruangan kaku, kosong dan temaram.

Rumah Ukan terbuka untuk semua pihak. Jauh berbeda dengan rumahku. Di bagian belakang rumah Ukan, terdapat rak bambu, tempat menyimpan jagung, ubi dan pisang, yang ditumpuk dari hasil perkebunan. Sedangkan kamar mandinya, terpisah dari rumah.

Di belakang rumah Ukan, aku melihat ada pipa bambu yang panjang untuk mengalirkan air jernih yang datang dari mata air gunung, mengalir menembus hutan, menuju bak mandi.

***

Ukan mengantar aku pulang, sampai di pintu pagar belakang. Aku berbalik melihat Ukan dan tersenyum kepadanya, sebelum dia pergi.

Di rumah, Papa marah, karena aku pulang terlalu sore. Bahkan aku bisa melihat percikan kemarahannya pada saat dia berkedip.

“Dari mana?” tanya Papa. Terdengar pendek dan tegas. “Papa tidak suka kamu main ke kampung,” kata Papa lagi sebelum aku menjawabnya.

“Tidak bagus untuk kamu,” kata Papa lagi, melanjutkan.

            “Aku main bersama Ukan, Papa.”

“Mulai sekarang Helen tidak boleh lagi main ke kampung. Kau dengar tidak?” kata Papa sambil berdiri dan berjalan ke ruang dalam.

“Iya, Papa.”

“Ukan saja yang ke sini,” kata Mama dengan suara enak didengar.

“Iya, Mama.”

***

Waktu berlalu, pada suatu hari, untuk acara ulang tahunku yang keempat belas, aku diizinkan mengadakan pesta kecil-kecilan di rumahku.

Hampir semuanya adalah anak-anak berambut pirang yang datang ke acara pesta ulang tahunku. Ada tiga orang pribumi yang datang ke acaraku, mereka adalah Saroja, anak pejabat di kota Bandung, dan dua orang lagi yang sudah kulupa namanya, mereka anak Raden Wedana Banjaran, dan anak Raden Camat Cisondari. Aku tidak tahu seberapa dekat persahabatan Papa dengan ayah-ayah mereka.

Ketika itu berlangsung, meja makan besar diatur dengan baik di ruang tengah, untuk menyimpan keranjang isi kacang, klappertaart9, ontbijtkoek10, schuimpjes11, spekkoek12 dan ada banyak minuman ringan.

Di atas meja kecil, yang ada di sebelahnya, berdiri gramofon koper yang sedang memainkan musik anak muda. Sitih tampak sibuk melayani mereka.

Berbagai hadiah ulang tahun menumpuk tinggi di atas meja, biasanya berupa  pita rambut, cokelat, album foto kecil, buku Pinocchio dan beberapa lainnya.

Sebetulnya aku tidak menginginkan kado apa pun di acara hari ulang tahunku itu, aku hanya ingin Ukan datang.

Aku bertanya kepada Sitih: “Mengapa Ukan tidak ada?”

Jawabannya adalah hanya orang-orang Belanda saja yang boleh datang untuk menikmati semua kegembiraan di acara ulangtahunku.

Di Hindia, orang kulit putih secara alami menempatkan dirinya di atas derajat penduduk asli, meskipun tidak pernah diucapkan dengan keras, tapi di dalam sikap dan perilakunya semua menunjukkan bahwa orang Belanda merasa memiliki status yang lebih tinggi daripada orang Hindia.

Orang kulit putih merasa jelas bahwa mereka berada di antara lapisan atas dan merasa memiliki kendali.

Di jaman jauh sebelum jamanku, bahkan sampai ada sebuah tulisan di sebuah papan yang dipasang di pintu masuk kolam renang; Verboden voor honden en inlander, artinya “Anjing dan Pribumi dilarang masuk”.

Kesenjangan seperti itu masih terus berlanjut hingga di jamanku. Oleh hal seperti itu, kehadiran Ukan, sebagai pribumi, datang ke acara Belanda menjadi hal yang tabu dan kenyataannya memang begitu.

Meskipun Sitih, Darsa dan Marwan berada tinggal di rumahku, tetapi yang aku rasakan, mereka kurang mendapat perhargaan yang tinggi, kecuali oleh Mama, yang bisa memberi lebih banyak rasa hormat.

Segera setelah acara ulangtahunku selesai, aku menghempaskan diriku di kasur dan menangis. Aku sangat terkejut mendengar bahwa masalah kelas sosial telah menjadi hal besar untuk menghalangi Ukan datang ke acara ulang tahunku.

Tidak pernah muncul dalam diriku mempersoalkan perbedaan ras dan kelas sosial antara aku dengan Ukan, Demi Tuhan.

Kehidupan Ukan telah menyatu dengan kehidupanku dan membuat aku tidak pernah merasakan perbedaan itu.

Pertanyaannya adalah, apakah mungkin ada kecemburuan di balik penghinaan kepada kaum pribumi di masa masa itu? Jika tidak, lalu apa? Aku tidak habis mengerti.

Dunia ini adalah sebuah kebun dan kita adalah bunga-bunga yang ada di kebun itu. Masing-masing harus bisa melihat diri kita sebagai warga dunia, dan ini akan memberi kita rasa kesetaraan.

Itu pendapatku, tetapi siapa mau peduli?

***

Hari sudah mulai larut malam, Sitih sudah kembali ke tempat tinggalnya di belakang. Aku mencoba menutup mataku untuk tertidur melalui saat-saat kesedihan yang membingungkan. Wajah Ukan muncul di benakku dengan akurat setiap detik.

Karena sangat lelah, aku bisa dengan cepat tertidur, melawan kesedihan, tetapi beberapa saat setelah itu, aku dikejutkan oleh suara seperti jendela yang dilempar menggunakan batu kerikil. Siapa yang melakukannya? Siapa yang melakukan permainan konyol ini?

Semua jenis hantu yang diceritakan oleh Sitih, muncul di benakku. Meskipun gemetar ketakutan, aku melirik ke arah jendela dan bisa merasakan ada seseorang di luar sana, memanggil namaku:

“Helen …”

Suaranya seperti teriakan yang ditahan karena tidak ingin ada orang lain yang bisa mendengar. Aku segera mengenalinya sebagai suara Ukan.

Aku bangkit dengan cepat dan bergegas membuka jendela, kemudian aku melihat Ukan keluar dari kebun samping rumahku dalam cahaya redup dari lampu gantung model lama. Dia berjalan mengendap-endap, ketika sudah sampai di depanku, dia berdiri hanya dua meter dariku dalam latar belakang bayangan pohon. Dia menggunakan sarung yang disampirkan menutup kepalanya.

Aku membungkukkan badanku ke arah luar jendela, aku melihat ke sekeliling karena kuatir akan ada orang yang melihat pertemuanku dengan Ukan, karena biar bagaimana pun pertemuan seperti itu adalah illegal dan aku dibesarkan dengan cara yang sangat dilindungi.

“Bagaimana kamu orang berani ke sini?” kutanya dengan suara berbisik. Kami harus membuat volume suara sepelan mungkin.

“Selamat Ulang Tahun,” katanya.  Dia tersenyum di keremangan.

“Terimakasih, Ukan,” kataku dengan gembira.

Tak lama kemudian Ukan pamit pergi. Aku menutup jendela dengan sangat hati-hati. Aku sedikit merasa lega karena merasa yakin bahwa pertemuan rahasia kami tidak diketahui oleh orang.

Kejadian malam itu menjadi sejarah gila dalam hidupku. Aku langsung membangun istana di udara. Aku ambil biola dan kemudian memainkan sebuah lagu dengan volume yang pelan. Mudah-mudahan Ukan bisa mendengar di tempatnya, atau di mana pun dia berada malam itu.

Tiba-tiba, pintu kamarku terkuak, itu adalah Mama. Dia menegurku dalam bahasa Belanda, mengapa aku belum tidur dan jangan main biola karena hari sudah mulai larut malam.

Aku minta maaf dan meletakkan biolaku di atas meja, kemudian mendapat ciuman malam dari Mama, di wajahku yang pucat dan termenung, sebelum Mama pergi ke luar kamar.

***

Dua hari setelah itu, ulang tahunku juga dirayakan di rumah Ukan. Itu murni insiatif dari Embu. Aku benar-benar merasa mendapatkan rasa hormat. Aku merasa menjadi wanita yang istimewa.

Acaranya dilaksanakan di rumah Ukan, yang mereka sebut sebagai acara selametan untuk mendapat berkah dari Tuhan.

Aku datang dengan menggunakan gaun bergaris hijau yang dibalut sweter dari bahan woll.

Pada saat itu ada banyak orang bergabung, sebagian besar adalah teman-teman Ukan, yaitu Irkam, Sukri, Nata dan juga beberapa tetangga Ukan, seperti Pak Jumiran, Ibu Sarimah, Ibu Rohmah, Pak Sidi dan lainnya.

Mereka datang diundang Embu. Aku sudah mengenal mereka, dan sekarang mereka memberikan perasaan khusus untuk aku yang sudah duduk bersama mereka di atas tikar daun pandan yang digelar di halaman depan rumah Ukan.

Aku duduk dengan kaki bersilang dan mencium aroma pedas dari sambel terasi yang sedang diproses oleh Embu di dapur.

Ayam berkotek, berhamburan, bersaing dengan bacaan doa yang tidak kumengerti, yang biasanya dilantunkan bersama-sama dengan nada menyanyi. Tidak ada nyanyian lagu selamat ulangtahun di sana.

Beberapa saat kemudian, di depanku, sudah ada sekeranjang besar nasi putih hangat, ikan teri, ikan asin kering, ikan mujaer, beberapa tempe, babat, limpa dan sambal terasi tentu saja. Itu sudah menu yang cukup lumayan. Aromanya tercium begitu istimewa. Kami makan dengan apa yang disediakan.

Embu memasukan nasi ke setiap daun pisang yang dibentuk seperti mangkok yang disemat oleh lidi. Aku memegangnya dengan tangan kiri yang disangga oleh lutut kaki kiriku yang aku lipat ke atas.  Kumasukan nasi ke mulut dengan tangan kananku. Sedikit agak susah sebenarnya, karena aku tidak terbiasa makan tanpa sendok dan garpu. Bagiku, pada awalnya, hal itu tidak bisa kumengerti, kemudian aku merasa enak makan dengan menggunakan tangan.

“Ukan, aku pingin Laron,” kataku sambil makan. Semua orang yang mendengar aku berkata seperti itu, tertawa, termasuk Sitih. Aku mengatakan hal itu karena Ukan pernah cerita bahwa kadang-kadang orang kampung suka makan laron atau belalang sebagai makanan lezat mereka.

“Tikus, mau?” tanya Ukan becanda.

“Mauuu!!” Jawabku, langsung disambut oleh orang-orang ketawa. Semuanya.

“Jangan,” kata Ukan. “Tidak enak.”

“Kamu tidak suka?” kutanya.

“Tidak suka apa?” Ukan balik nanya.

“Tikus?”

“Tidak suka.” jawab Ukan dengan sedikit ketawa.

Aku pikir itu menyenangkan dan aku tertawa keras. “Sarua!” Kujawab dengan sedikit menekan intonasi. Orang-orang yang bersamaku tertawa lagi ketika mendengar aku mengucapkan kata: Sarua. Itu adalah bahasa Sunda, artinya sama.

“Kalau tidak suka, kenapa tadi kamu kepingin tikus?” tanya Ukan.

“Sugan teh Ukan suka,” kujawab dalam Bahasa Sunda, yang menyebabkan tawa bergema lagi di sana.

“Bisaan,” kata Embu ke Sitih.

“Aku belajar Bahasa Sunda dari Ukan,” kataku sambil mencondongkan tubuhku ke badan Ukan yang duduk di sampingku. “Dari Sitih juga,” kataku menambahkan, sambil memandang Sitih.

“Harus belajar setiap hari,” kata Embu.

“Aku hapal Qulhu, Embu,” kataku.

“Qulhu?” tanya Embu, sedikit terkejut.

“Iya,” kujawab langsung.

“Tahu dari mana?”

“Ukan!”

“Oh! Coba,” tanya Embu, merasa tidak percaya dengan menatap lurus ke wajahku.  

“Dengar ya.”

“Iya.”

“Qul huwallahu ahad. Allahu somad …” Aku terdiam sebentar, entah bagaimana aku  mendadak lupa, padahal sering kubacakan sebelum tidur.

“Lam yalid,” kata Ukan mencoba membantuku untuk ingat.

“Diam, Ukan!” kataku, kesal, tidak ingin diingatkan akan hal itu: “Sekarang aku sudah ingat.”

Ukan diam, tapi dengan senyum menyenangkan di bibirnya. Yang lain juga diam, tapi seperti sedang menahan nafas karena kuatir aku tidak akan hapal lagi. 

“Qul huwallahu ahad. Allahu somad. Lam yalid walam yulad walam yakullahu kufuwan ahad.”

Segera setelah itu, semuanya bertepuk tangan. Sebelum suara tepuk tangan mereda, kutanya Ukan: “Hal anta Kirdun?” dengan menggunakan bahasa Arab sambil menoleh kepada Ukan. Semua orang ketawa karena mereka tahu artinya, yaitu: “Apakah kamu monyet?”

“La,” jawab Ukan ketawa. Artinya: Bukan.

“Ayo. Selesaikan dulu makannya,” ajak Embu denga nada sisa ketawa di dalam suaranya.

***

Pada pukul lima sore, aku pulang. Di rumah, aku mendapati Mama sedang mencabuti beberapa daun layu di halaman depan.

Aku mengajak Mama bersalaman dengan cara mencium tangannya seperti yang diajarkan oleh Ukan. Harus tahu, itu aku lakukan, karena aku merasa betapa sopan anak Hindia itu kepada orangtuanya di dalam berbagai cara apa pun. 

Kemudian aku disuruh duduk oleh Mama di galeri depan. Pada satu titik aku merasa agak enggan meskipun akhirnya duduk juga. Aku pikir mungkin Mama akan mulai mengajukan pertanyaan dan benar saja.

“Siapa yang mengunjungi kamu kemarin malam?”

Aku terkejut. Bagaimana Mama tahu? Aku langsung berusaha menyembunyikan betapa gelisah yang aku rasakan.

“Siapa, Mama?”

“Kamu membuka jendela kamarmu malam kemarin, menemui seseorang.” katanya sambil menatap wajahku.

“Tidak ada siapa-siapa.”

Mama menghela nafas, lalu dengan suara masih seperti berbisik dia bicara lagi, “Jangan bohong, Helen.” Mama menatap wajahku. “Dia Ukan?,” tanya Mama kemudian.

Aku diam dengan kepala dan pikiranku sendiri.

“Jelaskan semuanya ke Papa,” kata Mama lagi.

“Papa?,” tanyaku sambil memandang Mama.

“Ya. Papa mau bicara denganmu tentang itu.”

Tak lama kemudian Papa keluar dari serambi bagian dalam yang biasa dia pakai sebagai ruang kerjanya. Biasanya dia akan masih di pabrik pengolahan untuk melakukan inspeksi atau bekerja di perusahaannya. Hari itu, secara kebetulan, Papa sudah ada di rumah.

Aku berdiri untuk menyambut Papa seperti yang diajarkan oleh Ukan, dan mencium tangan Papa. Kemudian aku melihat Papa mengernyitkan alisnya. Sepertinya dia heran dengan yang sudah aku lakukan.

Ketika aku duduk kembali, Papa tetap berdiri dengan menampakan keseriusannya. Di saat itu, reaksiku adalah diam. Aku membayangkan diriku sebagai seorang anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku langsung berpikir apa yang akan dia katakan soal pertemuanku dengan Ukan kemarin malam. 

“Kamu main terus ke kampung. Apa yang kamu cari?” tanya Papa.

Aku diam. tidak tahu apa yang harus aku katakan. 

“Mana, Sitih?” Papa menoleh ke Mama.

“Sitih tidak salah, Papa,” kataku pelan.

“Hidup di kampung, tidak bagus untuk perkembanganmu.”

Aku diam, tidak tertarik untuk bicara, meskipun ada banyak kata-kata di dalam pikiranku yang ingin aku ungkapkan.

“Dari mana kamu. Katakanlah?” Papa berkata dengan marah setelah melepas cangklong dari bibirnya. Aku pikir aku akan kehilangan akal untuk menjawab. Dengan sedikit ragu, akhirnya aku menjawab:

“Main, Papa,” lalu diam, dengan sikap seperti memohon belas kasihan. Kemudian Papa menanyakan hal sama yang ditanyakan oleh Mama soal kemarin malam. Aku merasa agak sulit untuk menyelamatkan diri dari kekacauan situasi seperti itu. Papa betul-betul marah.

Aku mengerti mengapa Papa marah, pasti dia mengkhwatirkan keamananku. Papa pasti mencemaskan keselamatanku. Baginya, apa yang sudah aku lakukan kemarin malam, adalah sesuatu yang benar-benar berbahaya. Papa merasa perlu melindungiku. Keamanan adalah hal utama di dunia warga Belanda. Dan Papa tidak sepenuhnya salah dalam hal itu.

Aku tidak bisa mengangkat kepala, seolah ada yang menggantung di leherku. Aku merasa seperti seorang tawanan. Lalu aku mendengar dia berkata, mengulang pertanyaannya karena belum kujawab:

“Siapa yang menemuimu kemarin malam?”

Aku menjawab atas desakan Papa, bahwa yang menemuiku semalam adalah Ukan. Saat itu aku hanya berpikir Papa mungkin tidak akan khawatir jika yang datang adalah Ukan. Karena Papa juga sudah mengenal Ukan. Kenyataannya tidak seperti yang aku pikirkan.

“Mulai sekarang kamu tidak boleh main lagi ke kampung dan bermain bersama Ukan,” katanya dengan nada kesal.

Kemudian dia memanggil Darsa. Aku melihat Mama diam-diam menghela nafasnya.

Di depan Darsa, Papa mengambil sikap tegas: “Mulai sekarang Ukan tidak boleh lagi main ke rumah.”

“Iya, Juragan,” jawab Darsa dengan suara sedikit bergetar.

Mengerikan! Tapi apa yang bisa aku katakan? Aku yakin apa pun yang aku katakan, tidak akan bisa mengubah keputusan Papaku. Tidak akan ada toleransi apa pun darinya.

“Katakan ke dia.” kata Papa lagi ke Darsa.

“Mangga, Juragan Kawasa. Besok lusa Darsa akan ke rumahnya.”

***

Malam itu, Papa dan mama sudah masuk ke kamarnya, aku diam-diam pergi ke belakang rumah untuk menemui Darsa yang kebetulan sedang merokok di galeri. Sitih sepertinya sudah tidur di ruangannya, demikian juga Marwan.

Aku mulai bicara dengan Darsa di sana.

“Darsa ….”

“Iya, Non.”

“Jangan Darsa bilang kepada Ukan dia dilarang ke rumah oleh Papa.”

“Tapi, Non ….”

“Tidak boleh!,” kataku dengan sedikit membenatak. Aku bersikeras pada kemauanku. Darsa tampak merasa bingung.

“Jangan Ukan tahu!,” kataku lagi.

“Kalau Ukan ke rumah, nanti Darsa dimarah Juragan, Non.”

“Jangan Ukan tahu!!!” Kataku kepada Darsa dengan nada membentak yang ditahan. Aku langsung bisa merasakan kebingungan yang sedang melanda Darsa. Aku mengerti.

Ketika aku akan kembali ke kamar, aku melihat Mama datang. Sepertinya dia tahu kemana aku pergi, dan kemudian bermaksud menyusulku. Begitu aku berpapasan dengan Mama, aku memeluk mama dan entah bagaimana kemudian aku menangis.

“Jangan menangis,” katanya. Sepertinya Mama mengerti tanpa perlu aku jelaskan lagi apa yang menyebabkan aku menangis.

“Selama hanya berkawan, kamu boleh punya kawan siapa saja. Tapi kamu harus mengerti mengapa Papa bersikap seperti itu. Papa hanya khawatir dengan keselamatanmu. Barangkali hanya itu,” kata Mama lagi ketika sudah sampai di kamarku.

Mama lebih banyak melibatkan perasaannya dan menunjukkan dirinya lebih terbuka. Mama melakukan lebih banyak hal penghiburan yang bisa dirasakan oleh diriku. Selalu.  Selalu.

***

Aku masih ingat, bagaimana keputusan Papa yang melarang Ukan main lagi ke rumahku, menjadi kenyataan yang membuat aku begitu sedih. Dan hasilnya adalah: Aku berjanji, di mata Papa akan berusaha selalu menjadi anak Papa yang baik dan taat pada semua aturannya, tapi ketika hari itu Papa sedang pergi ke Bandung, dan Mama sedang tidur siang, aku bisa meraih kebebasanku kembali dan melaksanakan hak-hak ku untuk mendapatkan kemerdekaan melalui pintu belakang.

Sore itu, aku pergi dari rumah dan menemui Ukan yang sedang bermain bola di tanah lapang bersama kawan-kawannya. Dan aku langsung senang oleh itu, cuacanya ringan, sedikit agak berangin. Kabut tipis melayang redup dan dingin.

Oleh Ukan, aku diizinkan untuk bergabung bermain bola bersama mereka. Ukan memilih aku untuk menjadi penjaga gawang di kelompoknya.

Di tengah-tengah permainan, Juha menendang bola terlalu keras sehinga bola melesat terlalu jauh, sampai hampir akan masuk ke dalam semak-semak, bersamaan dengan munculnya gerombolan pencari pertikaian. Mereka adalah Jozef, Hendrik dan Boyke. Itu adalah hal yang paling tidak pernah kami duga

Mereka berdiri dengan sikap provokatif. Jozef tersenyum menyebalkan, lalu pergi membawa bola kami.

”Sial, dia mau membuat aku marah,” kataku menggerutu, seperti bicara kepada diriku sendiri. “Hei! Jozef!” Aku berteriak memanggil Jozef sambil mulai bergerak ke arahnya.

Jozef menoleh tetapi kemudian bersikap tidak peduli dan terus berjalan membawa bola kami. Aku lari dan berhasil mengejarnya. Beberapa saat kemudian, aku sudah berdiri berhadap-hadapan dengan Josef.

“Menurut kamu siapa kamu?” Aku tanya Jozef ketika aku sudah berhadapan dengannya. Dia kemudian tersenyum sinis.

“Apa yang kamu tahu?” Dia menjawab dengan sorot mata yang dingin dan mengolok-olok. Sementara Hendrik dan Boyke tampak pucat dan agak gemetar untuk dilihat.

“Kembalikan bolanya!!” Suaraku hampir melengking, bersamaan dengan Ukan datang menarik tanganku, tapi aku tepiskan karena aku merasa belum beres berurusan dengan Jozef.

“Sudah, Helen.” kata Ukan.

“Hei!!” Jozef menunjuk dahi Ukan dengan jari telunjuknya, ”Sudah apa?” kata Jozef lagi kepada Ukan, dengan sebuah kerutan di kepalanya. “Belum selesai!”

“Katakan saja. Kamu tidak suka aku dekat dengan Ukan!” kataku memandangnya, tetapi sebetulnya lebih suka jika aku memukulnya. Kalau saat itu aku benar-benar ingin memukulnya, aku punya banyak alasan yang disebabkan oleh dirinya yang begitu menyebalkan.

“Sekarang dengar baik-baik,” kataku dengan dengusan marah. “Siapa pemilik gundik di kamar tidur ayahmu?”

Mendengar apa yang aku katakana, mata Jozef langsung terbuka.

“Kau murahan dengan Anjing Inlander!” Dia berteriak dengan tatapan mencela.

Aku benar-benar seperti kehilangan kendali atas siapa diriku mendengar apa yang dikatakannya. Aku sangat marah kepadanya. Kemudian, aku benar-benar memukul wajahnya. Semua orang langsung tecengang.

Jozef mengerang kesakitan dengan terduduk di tanah. Wajahnya menjadi merah padam, pembuluh darahnya membengkak di mata kanannya. Ternyata Jozef tidak lebih hanya binatang kecil dibandingkan dengan emosiku yang sedang naik.

Untuk sementara waktu, Hendrik dan Boyke, dua sekutunya itu, saling memandang seperti orang bodoh, kemudian dengan gugup, mereka berlari, satu demi satu. Mungkin mereka bingung apa yang harus mereka lakukan, bahkan mereka kabur tanpa mengatakan apa-apa.

Aku sudah bosan dengan kelakuan si Jozef. Pikirku, sekarang harus ada sesuatu yang sama sekali berbeda! Itu, aku masih bisa sedikit bersabar, kamu bisa menyaksikannya sendiri, aku hanya memukul wajahnya saja.

Tuhan pasti tahu, Jozef layak mendapat pelajaran, yang sebetulnya akan lebih baik kalau dia mendapat yang lebih keras lagi dari itu!

Selama ini tidak ada orang yang berani kepadanya, padahal ketika ada yang melawan, Jozef tidak terlatih untuk berkelahi.

Ketika akhirnya hal itu terjadi, itu adalah sesuatu yang tidak biasa mereka alami. Mereka tidak mempersiapkan dirinya dengan baik termasuk untuk menghadapi Hellen Maria Eleonora.

Ukan mengajak aku pergi untuk jangan sampai mengalami hal lain yang berkelanjutan, tetapi aku merasa urusanku belum beres.

“Sini!” kataku sambil merebut paksa bola yang masih di tangan Jozef dan berhasil, kemudian pergi meninggalkannya.  

Ketika aku telah mengambil beberapa langkah, aku mendengar dia berteriak”: “Verdomme!!! Berani kamu!!!” Suaranya bergetar, “Setan!”

Aku berbalik dan berjalan mendekatinya.  Aku merasa bangga menjadi seperti apa yang dia katakan, jika hal itu bisa meredam mulutnya yang lancang:

“Ya! Aku Setan!,” kataku dengan nada geram sambil membungkuk ke arahnya. “Mau lagi?” Jozef mengkerut seperti tikus, berusaha melindungi dirinya dari kemungkinan mendapat pukulan lagi dariku.

“Bilang pada kau punya Mama!” kataku.

Ketika dia mulai mengeluarkan saputangan dan mengusapkan ke wajahnya, aku pergi meninggalkannya.

***

Sangat mudah aku katakan: Aku tidak mau berdamai dengan orang macam Jozef. Dia sudah memandang rendah orang pribumi.

Dia bukan manusia lagi untuk hal seperti itu, meskipun mereka menganggap diri mereka adalah masih manusia. Tetapi sebetulnya orang macam dia itu adalah satu Iblis dari neraka.

Dia tidak bisa bertindak sewenang-wenang di bawah pengaruh kesombongan dirinya sebagai warga Belanda. Jika tidak ada warga pribumi yang tidak berani, maka aku memiliki keberanian yang aku butuhkan untuk melakukan apa yang harus aku lakukan padanya.

“Aku akan membalas dendam!” Jozef teriak ketika aku sudah berlalu beberapa meter darinya.

“Kapan saja yang kau rasa pantas!” jawabku dengan sedikit berteriak.  “Laki-laki mentah!!”

***

Besok paginya, aku turun dari kasur dengan badan masih tertutup selimut, aku buka jendela untuk mulai mencium lapisan humus kebun dan taman yang diguyur oleh hujan semalam. Tercium juga bau buah nangka yang sudah matang di samping rumahku, bau harum bunga cempaka, bau bunga kenanga dan pohon tanjung.

Aku mendengar suara ayam, domba dan manusia di kejauhan. Matahari sudah muncul dari balik gunung, cahaya keemasannya melemah oleh kabut. Sebagian sinarnya mampu menembak lereng curam pegunungan.

Sitih masuk ke kamarku, meletakkan roti di atas meja dan memotongnya dengan pisau. Dia menuangkan susu ke dalam mangkuk.

Aku sedang merasa tidak enak hari itu, sedikit sakit perut dan sesuatu yang seperti itu tapi tidak terlalu buruk. Mungkin karena terlalu banyak makan rujak setelah bermain bola dengan Ukan dan kawan-kawannya.

“Ada Nyonya Juliaantje.” kata Sitih dengan sedikit berbisik.

”Hah?”

Aku tahu Nyonya Juliaantje. Dia adalah ibunya Jozef. Wajahnnya sedikit merah jambu, matanya kecil dan hidungnya bundar. Rambutnya cokelat kemerahan dan kamu harus tahu dia punya bokong yang besar, berpakaian seperti tidak pernah bercermin.

Rumahnya di samping gereja, agak jauh dari rumahku. Kemudian aku mendengar Mama memanggil.

“Ya, Mama.” aku jawab hampir mengatakannya dengan sebuah teriakan,

“Sini!” Mama juga teriak dari luar kamar.

Jujur saja, tidak ada rasa senang untuk menemui Nyonya Juliaantje. Rasanya lebih pantas bagiku untuk lebih baik tinggal di kamar. Tetapi aku tetap ke sana, berjalan seperti orang yang akan mendapatkan hukuman, karena aku tahu maksud dari kedatangan Nyonya Juliaantje.

Pada saat pintu kubuka, di ruang depan aku dapati Nyonya Juliaantje sedang duduk bersama Mama. Mata Nyonya Juliaantje mengarah ke aku yang datang. Jari-jarinya tampak seperti berdebar tergeletak di pegangan kursi. Dia berusaha tampil anggun dengan sebuah topi yang masih terpasang di kepalanya. Aku berfikir alangkah baiknya kalau Tuhan mengirim burung elang dan mengambil topinya itu.

“Kenapa kamu memukul Jozef?” tanya Mama menatapku, seperti ingin tahu apa yang akan aku katakan. Aku sudah duduk di samping Mama saat itu.

“Dia mengganggu kami. Dia ambil bola kami.”

“Mata Josef bengkak ….” Kata Nyonya Juliaantje.

“Aku harus apa, Nyonya Juliaantje? Aku hanya memukul anak nakal.” kataku memandangnya.

Bersamaan dengan itu, Sitih datang membawa nampan berisi roti mentega dan dua gelas teh, kemudian mulai menyimpannya di atas meja bundar.

“Bagaimana kalau dia punya mata nanti buta?” kata Nyonya Juliaantje menggumam.

Tidak lama kemudian, setelah banyak obrolan sana-sini, akhirnya Nyonya Juliaantje bisa menerima nasib anak yang dicintainya, dan dia setuju untuk menarik kasus ini.

“Dia bilang akan balas dendam.” gumamku.

“Oh. Aku akan bilang ke Jozef janganlah dia begitu.”

“Dia harus tanggung jawab untuk kebodohannya!” kataku ke Mama.

Aku sudah sampai pada titik di mana ketika aku berpikir apa yang dia katakan adalah omong kosong dan duduk bersamanya adalah merupakan pemborosan waktu, Argumen menjadi tidak bermakna.

Ya, aku akui bahwa aku salah, tapi dia berkata seolah-olah semua itu adalah kesalahanku sendiri. Dia harus yakin kesalahan bukan hanya ada padaku, padahal kenyataannya kesalahan itu milik kami berdua. Aku juga cerita kepadanya tentang apa yang Jozef lakukan kepadaku di samping sekolah tempo hari. Nyonya Juliaantje terkejut.

Ketika dirasa tidak ada hal-hal penting yang harus aku dengarkan. Aku langsung berdiri dan mengatakannya pada Nonya Juliaantje:

“Suruh Jozef sendiri yang ngomong. Anak lawan anak, Ibu lawan ibu.”

***

Tanggal 5 Agustus 1937, suatu hari, melalui jalan belakang rumahku, ketika Mama dan Papa sedang tidur siang, diam-diam aku pergi ke luar dengan membawa kue mentega untuk Ukan.

Di tengah jalan menuju ke rumahnya, aku melihat dengan jelas, Ukan sedang bersama Wiranta dan seorang perempuan yang tidak aku kenali. Rambutnya panjang, hitam manis. Kelak aku tahu dia bernama Rohayati!

Mereka duduk di atas batu besar di tengah sungai, di dalam sebuah percakapan sambil ketawa bersama-sama. Tampak menyenangkan. Aku langsung mendapati diriku terganggu oleh kecemburuan yang tidak kukenal.

Aku menjadi kesal. Aku merasa kecewa. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan emosiku. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain kembali ke rumah, setelah membuang roti mentega yang asalnya akan aku berikan kepada Ukan.

Sebetulnya, secara alami aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang salah dengan Ukan? Dia punya hak untuk berkawan dengan siapa pun, apalagi Ukan hanyalah sahabatku. Tapi cemburu adalah tetap cemburu, biar bagaimana pun. Itu hampir membuat aku bingung. Emosi menjalar ke tenggorokan, aku tidak bisa menahan air mata. Ditelan kesedihanku sendiri.

Di kamar, aku duduk di kursi rotan, menyandarkan kepalaku di salah satu sandaran lengan kursi, sementara kakiku bersandar pada sandaran lengan kursi lainnya sehingga badanku menekuk dengan kedua lututku yang terlipat. Cahaya siang turun melalui cermin di lemari kamar tidurku.

Hari itu memang seperti itu. Aku merasa ditinggalkan dan diabaikan. Aku sedih, marah, dan merasa putus asa. Tak dapat dijelaskan.

Pada dasarnya, aku juga tidak tahu secara persis apa yang sebetulnya aku inginkan. Itu sudah salah dari sejak saat pertama aku merasakan sesuatu seperti itu.

Apakah aku ingin terlalu banyak? Apakah aku manja dan banyak menuntut?

Iya.

***

Sejak itu, aku sangat kesal dan menjaga jarak dengan Ukan. Banyak fantasi menyakitkan yang melintas di kepalaku. Anehnya, aku menikmati situasinya, sehingga aku benar-benar merasa puas seandainya Ukan kecewa dengan sikapku.

Selama tiga hari, aku menghabiskan waktu untuk diriku sendiri, bermain biola dan baca buku. Aku tidak ingin apa pun bersama Ukan dan menjadi orang yang tidak akan bisa dihibur oleh siapa pun.

Aku mulai menjalani kehidupanku sendiri dan menolak bertemu dengan Ukan yang datang ke rumah. Aku belum benar-benar ingin melihatnya. Tidak lagi berpikir bahwa wajah Ukan adalah wajah yang penuh pesona di dunia.

“Katakan kepadanya aku ingin sendirian,” kataku kepada Sitih, ketika dia bilang bahwa ada Ukan, menunggu, di puntu pagar belakang.

“Iya, Non”

***

Hari demi hari berlalu, lama kelamaan, aku merasa suram sendiri, seperti yang aku rasakan sore itu. Tidak nyaman dan bosan. Aku merasa jatuh kembali pada kebutuhan utamaku, yaitu bermain bersama Ukan. Jika aku merasa sedih, harusnya aku malu dengan kesedihanku itu.

Haruskah aku terus-menerus mengasihani diriku sendiri? Tidak bisakah aku menemui Ukan dan mengatakan semuanya? Itu akan sangat sopan dan bijaksana.

Aku mulai berpikir mengapa harus menjadi seperti itu, meskipun aku hanya bermaksud ingin mengekspresikan perasaan hatiku saja.

Aku duduk di kursi rotan kamarku dengan gerakan yang suram dan memandang ke halaman. Itu hanya terasa pahit dan lesu di dalam kesendirianku. Aku seperti tidak akan bisa mengatasinya. Ada keinginan kuat untuk berbicara dengan seseorang tentang hal itu. Seseorang yang bisa aku ajak bicara dan mungkin dia bisa membantu.

Tetapi siapa? Aku khawatir bagaimana seandainya aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini?

Mama masuk ke kamar, memecahkan kesunyian dan mengingatkan aku bahwa besok, pagi-pagi, Papa, Mama dan aku akan berangkat ke Batavia.

Setelah Mama pergi, kupanggil Sitih dan berbicara kepadanya:

“Sitih, tolong katakan kepada Ukan…”

“Iya, Non”

“Besok Helen ke Batavia. Bilang hanya dua hari, setelah itu akan kembali”

“Iya, Non”

***

Sudah dulu ya, saya mau nulis lagi.

Kengkawan bisa baca ulasan-ulasan Helen dan Sukanta melalui artikel yang dibuat oleh ahlinya di bawah ini…

error

Please follow & like us :)