Pidi Baiq

Yakin mau singkirkan Dilan-Milea? Duh susah deh, kengkawan! Tapi, nih ya mimin kasih tahu bakal ada saingan berat Dilan-Milea yang bakal datang tahun ini (semoga). Siapa dia??? Tentu udah enggak asing lagi sama Helen dan Sukanta yang sudah banyak digemborkan di media sosial The Panasdalam Publishing. Ceritanya bakal enggak kalah menarik dan latar belakangnya di tahun 1924 ini membuat kamu makin kaya akan pengetahuan keadaan di masa lalu.

Intip yuk quotes asyik nan menarik dari Novel Helen dan Sukanta dulu…

Rasanya tak ada hal yang paling indah dalam hidup ini, Nak, jika jiwa kita masih tetap melayang di atas tempat di mana kita pernah menikmati diri kita di sana.

Baca juga: Mengapa Pidi Baiq terbitkan Novel Helen dan Sukanta lebih awal daripada lanjutan Milea?

Nah kalau ini pas lagi terbawa suasana.

Semakin banyak waktu yang saya habiskan bersamanya, semakin saya menemukan diri saya tertarik padanya. Saya menemukan dia menjadi salah satu orang paling menarik yang pernah saya temui.

Dunia ini adalah sebuah kebun dan kita adalah bunga-bunga yang ada di kebun itu. Masing-masing harus bisa melihat diri kita sebagai warga dunia, dan ini akan memberi kita rasa kesetaraan.

Bagian Helen nih yang bikin meleleh..

Aku bisa merasakan hangat napasnya di mataku ketika Ukan menunduk sambil menggenggam tanganku. Begitu lembut dan lamban seperti bulan Agustus, seperti udara musim kemarau, yang cukup hangat meskipun penuh badai. Kemudian, air mata mengalir di pipiku.

Hampir empat hari tanpa dirinya, aku seperti menemukan diriku yang tidak berkutik. Sangat tidak enak rasanya. Sebagian dari diriku seperti menunggu matahari segera terbit untuk segera kembali ke Ciwidey dan berlari menemui Ukan.

Baca juga: Alasan Novel Helen dan Sukanta Wajib Jadi Bacaan Kamu

Bagian yang paling nyessss menurut mimin…

Kehilangan dirinya benar-benar adalah hal paling gelap yang pernah aku alami. Itu adalah luka terbesar yang pernah menimpaku. Hati terasa berat, seperti awan tebal yang menggumpal di langit. Aku tidak lagi tahu apa yang harus aku lakukan, dan bingung oleh segala hal.

Tidak ada yang tahu berapa banyak rasa rindu yang menyengat sejak dia mengucapkan selamat tinggal kepada Ukan, kepada Hindia Belanda, kepada Bandung dan Ciwidey.

“Selamat tinggal Negara yang indah, daerah yang indah, yang selalu aku cintai. Tanah airku, tanah air yang bersih yang bagus, yang selalu kurindu”.

BACA JUGA : SIAP-SIAP ARTIS GITA SINAGA RILIS BUKU PERTAMANYA DI PENERBIT THE PANASDALAM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

error

Please follow & like us :)