Anak-anak Ciwidey

Keluargaku adalah keluarga kelas menengah yang mampu memenuhi kebutuhan untuk kehidupan yang lebih baik. Bahkan beberapa di antaranya adalah kuanggap sebagai suatu kemewahan. Di rumahku ada radio, gramofon, piano, buku-buku dan banyak mainan, dari mulai boneka sampai meccano

Aku diberikan pendidikan Katolik yang harus berdoa sebelum makan, dan juga berdoa sebelum mau tidur, yaitu dengan cara meletakkan lututku di ubin sambil menundukkan kepala, sampai aku benar-benar bisa merasakan seolah-olah sedang berbicara dengan Tuhan. Aku lakukan itu. Aku tahu semua doa memang baik.

Di hari Minggu kami mengunjungi gereja kecil yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumahku, yaitu terletak di daerah yang biasa disebut Tonggoh. Kadang-kadang aku pergi bersama ibuku ke berbagai acara sosial yang biasa diadakan oleh keluarga Belanda, di mana biasanya berita terbaru dan gosip-gosip akan diperbincangkan di sana.

Waktu aku berumur 10 tahun, aku sudah punya biola sendiri, pemberian orang Itali, yaitu teman ayahku yang dulu dikenal sebagai pengusaha susu di daerah Lembang, Bandung Utara. Pada awalnya, buatku, biola adalah instrument yang sangat sulit dimainkan meskipun sudah belajar dari teman ayahku yang bermata ketat dan rambutnya abu-abu.

Untuk waktu yang lama aku terus belajar, memperhatikan notasi dan mencari akord yang tepat, sampai bisa memainkan potongan-potongan lagu Strauss, atau menyanyikan lagu-lagu gereja untuk diriku sendiri di kursi kamarku selama beberapa menit yang kosong. Kemudian, suara biola itu akan memenuhi ruangan, sampai semuanya menjadi terasa begitu dekat dengan perasaanku.

Sekarang, ke bab 3 ya.

error

Please follow & like us :)