Helen Maria Eleonora

Biarkan aku mulai dari awal. Aku lahir tahun 1924, sebagai seorang gadis Belanda, di salah satu daerah yang ada di kawasan Ciwidey. Aku berkulit putih yang akan memerah apabila terkena sinar matahari yang terik. Ada sedikit bintik-bintik coklat pada bagian wajahku. Sedangkan mataku coklat dengan bulu mata yang lentik. Aku berambut pirang dan bangga dengan hal itu. Aku diberi nama baptis Helen Maria Eleonora. 

Sejak usia dini, aku hanya tahu bahwa aku orang Ciwidey, sedangkan Belanda adalah negara yang jauh di Eropa. Aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan hal ini atau tidak, tetapi menjadi seorang Belanda yang dibesarkan di sebuah daerah di Hindia Belanda telah membuat orang sepertiku menjadi Belanda yang berbeda dibandingkan dengan orang Belanda yang dilahirkan di Eropa. Ini terutama menyangkut masuknya orang atau budaya tertentu di dalam masyarakat pribumi ke dalam lingkungan mereka sebagai sebuah proses pembauran meskipun tidak sepenuhnya bisa dikatakan begitu. Itu hal yang tak bisa dihindarkan dan tidak dapat dibatalkan, tidak peduli seberapa ketat keluarga mereka berusaha membesarkan mereka dengan mengacu pada standar Eropa yang mereka sebut sebagai dunia beradab. Kadang-kadang, aku secara pribadi merasa sangat rumit dengan hal itu dan betapa merepotkan standar-standar itu.

Sebagian besar keluarga Belanda memiliki ilusi untuk menempatkan diri mereka pada posisi tertinggi di kelas masyarakat. Mereka melarang anaknya pergi dengan penduduk asli yang dipandang rendah oleh mereka. Aku tumbuh di jaman ide-ide seperti itu masih berlaku. Bahkan sebagian besar orangtua Belanda tidak suka kalau anak-anaknya menggunakan “bahasa gado-gado”, yaitu Bahasa Belanda yang dicampur oleh bahasa daerah, seperti: “Hè, diem toch, nonni, ‘t Is amper tijd om te gaan slapen.” (Hai, Diam, Noni, ini hampir mau tidur) atau “Obat ini, obat itu, never mind, als het maar obat was” (Obat ini, obat itu, tidak apa-apa, asalkan itu obat).

Pembauran, disadari atau tidak, terjadi kepada kedua belah pihak, terutama ketika satu sama lain melakukan kecenderungan saling beradaptasi dengan caranya sendiri. Kadang-kadang terjadi di dalam hal-hal yang tidak dapat dijelaskan. Orang pribumi yang tinggal di lingkungan keluarga Belanda, seperti Babu, Jongos, dan tukang kebun, akan mengetahui kosa kata atau kalimat-kalimat kecil, dari bahasa Belanda, meskipun hanya seputar masalah tugas-tugas rumah, kebun dan dapur. Lama kelamaan, dengan sendirinya, mereka jadi bisa bahasa Belanda meskipun dalam bentuk yang pasif dan diucapkan secara harfiah: Horloge jadi Arloji, Waaskom jadi Baskom, Dolk jadi Golok, Vermaak jadi Permak. Kadang-kadang ada di antara mereka yang mengerti Bahasa Belanda, tetapi tidak bisa menggunakannya.

Hal sebaliknya terjadi padaku, aku bisa menggunakan Bahasa melayu dan Bahasa Sunda melalui apa yang aku dengar dan oleh karena terbiasa menggunakan Bahasa itu terutama dengan Sitih.

Lanjut lagi ke bab 2 ya

error

Please follow & like us :)