Helen Maria Eleonora

Inilah ceritaku.

Aku lahir tahun 1924, di kawasan Ciwidey, yang tidak akan aku sebutkan nama daerahnya karena alasan tertentu.

Aku lahir sebagai seorang gadis Belanda yang memiliki kulit warna putih-kuning dengan pipi agak kemerahan. Ada sedikit bintik-bintik coklat pada bagian wajahku, tapi, kata ibuku, itu berguna untuk melindungiku dari pengaruh bahaya sinar matahari.

Aku sangat sehat. Kulitku terasa halus dan lembut. Mataku biru dan rambutku tebal bergelombang, berwarna pirang agak kecoklatan sesuai dengan apa yang dimiliki oleh ibuku. Aku diberi nama Helen Maria Eleonora. Menurutku, itu adalah nama yang baik untukku.

Aku tidak hanya dibesarkan dengan bahasa Belanda, sebagai bahasa ibu, aku juga tumbuh dalam keluarga Belanda khas yang mengutamakan nilai-nilai budaya Barat.

Seleraku diprogram sesuai dengan model Eropa, di tengah-tengah kepungan budaya, norma, dan nilai-nilai masyarakat pribumi, yang lebih kuminati melebihi minatku pada budaya Eropa.

Aku diperlakukan seperti itu, dengan pola asuh yang cukup ketat.

Aku tidak diizinkan pergi ke mana pun, terutama jika pergi sendirian. Mungkin mereka berpikir lingkungan di luar begitu mengerikan dan oleh karena itu mereka lebih suka melihat aku berada di kamarku.

Jika kamu berpikir sepertiku, kamu akan setuju, kalau aku selalu memiliki banyak masalah dengan keketatan seperti itu. Mau tidak mau, aku jadi harus bisa mencari-cari sendiri hiburan di rumahku.

Sepertinya Ayahku memahami apa yang aku pikir dan apa yang aku rasakan. Sebagai sebuah kompensasi, ayahku memberi aku biola dan membeli banyak buku untukku.

***

Demikianlah singkatnya. Keseluruhan cerita segera akan datang nanti. Sekarang aku akan menggambarkan sedikit lebih terperinci tentang keluargaku, supaya kamu bisa mendapatkan gambaran tipologis tentang orang-orang di sekitarku.

Keluargaku adalah keluarga kelas menengah yang mampu memenuhi kebutuhan untuk kehidupan yang lebih layak. Tidak terlalu kaya seperti keluarga R.A. Keerkhoven atau keluarga Hoogeveen, tetapi juga tidak miskin.

Di rumahku ada pesawat telepon, lampu listrik, mobil Ford Tudor, radio, gramofon, koleksi rekaman klasik ayahku, (kebanyakan Arias dari opera terkenal masa itu) Buku-buku, biola, beberapa lukisan, mesin jahit dan berbagai macam jenis mainan, dari mulai boneka sampai meccano1. Itu belum ditambah dengan barang-barang antik Tionghoa koleksi ibuku, dari mulai vas bunga, guci, cangkir dan piring-piring berharga.

Aku diberikan pendidikan Katolik yang harus berdoa sebelum makan, dan juga berdoa sebelum mau tidur, yaitu dengan cara meletakkan lututku di ubin sambil mengangkat kepala sepenuhnya, sampai aku benar-benar bisa merasakan seolah-olah sedang berbicara dengan Tuhan. Aku lakukan itu, tidak dimaksudkan untuk menjadi religius atau saleh. Aku hanya tahu semua doa memang baik.

Di hari Minggu kami mengunjungi gereja kecil dengan menara sederhana di sebelahnya, dibangun dari batu dan pasir yang cerah. Langit-langitnya berwarna putih salju. Lokasinya kira-kira dua ratus meter di sebelah selatan rumahku, yaitu terletak di daerah yang biasa disebut Tonggoh. Itu, selalu lebih baik daripada bosan tinggal di rumah. Lagipula khotbah yang baik tidak pernah merugikan siapa pun, dan kata ibuku barangsiapa yang tidak datang kepada-Nya secara sukarela, tidak akan pernah mendapatkan Kasih-Nya. Ibu menganjurkan untuk mengekspresikan iman kepada-Nya dengan menyanyikan lagu-lagu pujian untuk Tuhan, maka hati akan bersukacita dalam Roh.

Kadang-kadang aku juga pergi bersama ibu ke berbagai acara sosial yang biasa diadakan oleh keluarga Belanda, di mana biasanya berita terbaru dan gosip-gosip akan diperbincangkan di sana. Aku bisa mendengar hal-hal yang mereka katakan, baik itu penting atau cuma omong kosong, baik itu menyenangkan atau menyebalkan. Tetapi hal yang paling jelas dari semuanya adalah membosankan. Aku hanya duduk di samping Mama, melepas diri dari jenis kegiatan apa pun, dan harus banyak senyum meskipun tidak jelas, untuk merayakan tatakrama sosial.

Waktu aku berumur 10 tahun, aku sudah punya biola sendiri, pemberian keluarga orang Itali, yaitu teman ayahku yang dulu dikenal sebagai pengusaha susu di daerah Lembang, Bandung Utara.

Pada awalnya, buatku, biola adalah instrument yang sangat sulit dimainkan, meskipun sudah belajar dari teman ayahku yang bermata ketat, berambut abu-abu dan suka meminjam uang ke Mama dengan diawali oleh percakapan yang menyenangkan.

Untuk waktu yang lama aku terus belajar, memperhatikan notasi dan mencari akord yang tepat, sampai bisa memainkan potongan-potongan lagu Strauss, atau menyanyikan lagu-lagu gereja untuk diriku sendiri di kursi kamarku selama beberapa menit yang kosong.

***

Aku sekolah di Sekolah milik Yayasan yang ada di daerahku, yaitu sekolah yang disediakan untuk anak-anak Belanda pengusaha di Ciwidey. Lokasinya lumayan agak jauh dari rumahku.

Aktivitas di sekolah dimulai pada pukul delapan dan bertahan sampai pukul satu siang. Aku pergi ke sekolah dengan menggunakan bus sekolah yang disediakan oleh yayasan.

Hari-hariku berjalan seperti itu, memakai rok warna putih dari bahan kain Sete dengan lipatan yang benar-benar terasa kaku.

Aku bisa bertemu banyak teman di sekolah, tetapi sekolah hanya tempat untuk belajar, maksudku selain untuk mendengarkan semua ocehan guru sampai tiba saatnya pulang.

Setelah itu, hampir tidak ada yang aku lakukan selain tidur siang, sebagai bagian dari budaya Belanda, yang dilakukan dari mulai pukul dua hingga pukul empat sore.

Sementara anak-anak pribumi, sekolah di sekolah khusus untuk anak-anak karyawan dan buruh perusahaan dengan masa pendidikan selama empat tahun.

Sejauh yang aku tahu, mereka membayar Lima sen hingga satu setengah gulden per bulan, kecuali bagi mereka yang keluarganya tidak mampu secara ekonomi.

Kelak di antara anak-anak pribumi itu ada yang melanjutkan sekolahnya ke tingkat lanjutan dan sekolah menengah seperti HIS2 dan MULO3 di Kota Bandung, yang akan memberi mereka kesempatan untuk menerima pendidikan menengah dan bahkan lebih tinggi lagi dari itu.

Guru-gurunya adalah lulusan pendidikan di Normaalschool atau Hogere Kweekscholen (H.K.S.) dan digaji oleh pemerintah Belanda. Pengawasan sekolah dilakukan oleh kepala pengawas dan pengawas adat, yang dipimpin oleh inspektur Eropa.

Aku sering melihat sebagian besar dari mereka—anak-anak Pribumi, berjalan pulang dan pergi ke sekolah dengan tanpa alas kaki. Anak-anak perempuannya menggunakan pakaian kebaya dan sarung batik yang sudah lusuh. Sedangkan anak laki-lakinya, membungkus kepala mereka dengan sejenis kain batik yang dililitkan.   

***

Ayahku bernama Adriaan, seorang Belanda dengan kulit berwarna kemerahan dan wajah berjanggut runcing. Hidungnya cukup mancung dengan mata biru yang terang. Papa, demikian aku menyebutnya, adalah seorang pengusaha di salah satu perusahaan yang ada di kawasan Ciwidey. Dia biasanya terlihat cukup rapi.

Di tahun-tahun itu, Papa adalah  orang yang sangat sibuk dan selalu terlihat membenamkan dirinya di dalam pekerjaan. Jika harus lembur, dia akan pulang di ujung sore dengan tubuh berkeringat dan penuh debu, kadang-kadang dipenuhi oleh lumpur atau basah kuyup diguyur hujan.

Di rumah, dia akan sedang menulis di mejanya untuk membuat pembukuan dan urusan-urusan lain yang menyangkut masalah perusahaan. Jika dia sudah di sana, dia akan seperti orang yang diam-diam sedang menikmati dirinya.

Di atas meja tulisnya itulah, Papa telah memainkan peranan penting di dalam perkembangan salah satu perusahaan yang ada di kawasan Ciwidey.

Seingatku, Papa adalah orang yang paling mengutamakan kewajiban. Dia orang yang tidak mengenal belas kasihan baik bagi dirinya, maupun bawahannya terutama kalau sudah menyangkut masalah kekeliruan atau kesalahan.

Pikirannya selalu mengembara ke mana-mana, ke pekerjaannya dan ke semua hal yang tidak bisa kubayangkan. Tentu saja, aku tidak pernah tahu apa yang ada di dalam pikirannya.

Kadang-kadang aku sering melihat Papa sedang duduk di kurasi rotan warna kuning pucat, yang ada di serambi bagian dalam, mendengarkan siaran radio NIROM4, yaitu radio pemerintah Hindia Belanda, yang menyiarkan program-program olahraga, politik, budaya, layanan gereja, dan senam pagi.

Selain itu, NIROM juga menyiarkan musik-musik orkestra, atau sandiwara dari kelompok teater dan kabaret dari Belanda. Papa akan mendengarkannya dengan mata yang tertutup atau sambil menghisap tembakau yang biasanya dia beli di toko Tabaksplant, Bragaweg5, Bandung.

***

Sedangkan ibuku, bernama Maria. Dia lahir di Den Haag tahun 1907. Dia adalah wanita muda yang segar, dengan gigi putih. Matanya berwarna coklat agak terang dengan rambut sebahu berwarna pirang kecoklatan. Dia manis, punya jiwa sosial, cerdas dan sopan. Hampir tak pernah dengki, selalu menunjukan penilaian yang sehat di dalam banyak hal. Kepada siapa pun, dia hampir tidak pernah memiliki hati yang buruk.

Kalau aku bilang dia cantik, karena memang begitulah dirinya, apalagi kalau sudah memakai kebaya flannel dan dipadu dengan sarung batik Pekalongan, dia tidak akan cuma cantik, tetapi sekaligus juga anggun.   

Mama, begitu aku menyebut dirinya, hanya ibu rumah tangga biasa dan memiliki satu kamar khusus sebagai ruang untuk menjahit. Kadang-kadang dia akan menghabiskan sebagian besar harinya dengan menjahit di sana, sambil mengatasi segala kerinduannya pada negara Belanda yang sudah lama dia tinggalkan.

***

Kadang-kadang Mama suka bercanda denganku. Aku masih ingat pada suatu kejadian yang aku alami ketika aku berusia delapan tahun, di saat Mama membuatku berguling-guling di bangku sofa, sementara tangan Mama menggelitiki pinggangku.

Aku teriak sambil ketawa. “Stop!” kataku.  

Mama terus mengejarku, yang berlari untuk berlindung di balik badan Sitih, pengasuhku. Ternyata Sitih tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya tersenyum melihat tingkah laku kami, sore itu.

“Sitih, apakah Sitih melihat Helen?” tanya Mama ke Sitih dalam Bahasa melayu, berpura-pura tidak tahu kalau aku sedang sembunyi di balik badan Sitih yang sudah diam berdiri.

“Jangan Mama kasih tahu, Sitih!” kataku berbisik kepada Sitih.

“Jangan Nona bicara!” jawab Sitih berbisik kepadaku dengan sedikit ketawa. “Nanti Mama tahu.”

“Sitih, niet praten!6” kataku.

“Nee …” jawab Sitih dalam Bahasa Belanda, artinya: Tidak.  

Sitih memang mengenal sedikit bahasa Belanda dan juga ingin bisa lancar berbicara menggunakan bahasa itu.

“Apakah Mama boleh bicara?” tanya Mama dalam bahasa Belanda. Jelas pertanyaan itu ditujukan untukku yang sedang sembunyi di balik badan Sitih.

“Nee!” kujawab, yang langsung disambut ketawa oleh Mama dan Sitih.

Setiap kupikirkan kembali akan hari-hari ketika aku masih kecil, aku akan langsung memikirkan semua kenangan yang indah di masa itu. Rasanya ingin bisa kembali ke titik di dalam hidupku, di mana semuanya tampak begitu sederhana.

***

Mama selalu bangun pagi, dan sudah akan siap menikmati sarapan bersama Papa, sementara itu pekerjaan rumah tangga yang lainnya masih sedang berlangsung, dibantu oleh Sitih yang biasanya mengenakan celemek putih besar yang cerah.

Mama sangat suka membaca. Dia akan  membaca buku berjam-jam di kursi besar. Selain untuk dirinya, Mama juga membacakan buku untukku. Di mana sebelum dia mulai membaca, aku harus bisa menceritakan apa yang sudah dia bacakan untukku di malam sebelumnya.

Secara teratur, mama juga membaca Alkitab untukku dan biasanya langsung akan membuat aku jadi merasa religius sebelum akhirnya ketiduran.

***

Kadang-kadang untuk merayakan beberapa hari besar nasional atau keagamaan, Papa dan Mama mengadakan acara pesta kecil-kecilan dengan mengundang teman-teman dan kenalan mereka.

Jika itu sudah terjadi, meja formika besar akan ditempatkan di halaman belakang untuk menyimpan aneka macam buah-buahan dan jenis makanan ringan yang biasanya diimpor dari Belanda. Di bawah meja, terdapat aneka macam minuman yang disimpan di dalam sebuah tempat yang penuh dengan es balok.

Biasanya, Mama akan menawarkan makanan itu kepada setiap tamu yang datang untuk dicicipi, karena merasa penasaran ingin tahu reaksinya ketika mereka mendapatkan makanan yang lezat darinya.

***

Itulah sedikit gambaran tentang ayah dan ibuku. Sayang sekali, aku tidak tahu banyak tentang kedua kakek dan nenekku. Aku tidak mengenal mereka secara sadar. Bahkan foto kakek dan nenekku, sejauh yang aku tahu, tidak pernah kutemukan di rumah.

Sebetulnya aku ingin tahu, tapi Papa dan Mama hanya bilang bahwa kedua nenek dan kakekku tinggal di Amsterdam dan di Den Haag, semuanya sudah meninggal dunia.

Kemudian sejak itu, aku menyadari bahwa aku sudah tidak punya kakek dan nenek lagi, baik dari pihak Papa maupun Mama. 

***

Sedangkan Sitih, yang sebelumnya sudah aku sebutkan, adalah Sitih Saripa yang selalu memakai kebaya dan sarung.

Dia adalah Baboe yang hangat, beraroma khas tembakau dan wangi minyak kelapa dari rambutnya. Sudah seperti itu selama bertahun-tahun.

Sitih berasal dari Sumedang. Ketika aku berusia sembilan tahun, Sitih sudah berusia tiga puluh tahun dan sudah menyandang status sebagai janda.

Kata Sitih, dia bercerai karena suaminya, Muntayas, menikah lagi dengan seorang janda centil dari desa yang ada di daerah Sukabumi. Sementara, anaknya, yang ia sayangi, meninggal pada usia delapan tahun karena menderita sakit tifus. Aku langsung menyadari betapa pahitnya masalah itu dan memikirkan kekecewaan yang Sitih rasakan.

Sebulan setelah cerai, Sitih bekerja di daerah Kosambiweg, Bandung, menjadi baboe di rumah orang Tionghoa yang dia panggil Kokoh.

Ketika dia berada di sana, istrinya Kokoh yang sudah tua tapi masih suka memakai banyak perhiasan dan suka mengenakan pakaian satin kuning itu, merasa cemburu kepadanya. Sitih pun diusir pergi, dan akhirnya Sitih bekerja di rumahku, di mana ketika itu usiaku masih bayi.  

“Apakah Sitih berpacaran dengan Kokoh?” kutanya Sitih pada saat dia sedang menceritakan kisahnya di kamarku.

“Tidak, Non,” katanya. “Demi Allah. Ampun paralun!! Kokoh orang baik” Sitih mengucapkannya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke besi tempat tidurku.

***

Tugas Sitih, awalnya hanya untuk mengasuhku dan menjaga kamar tidurku untuk selalu tetap bersih, kenyataannya dia juga melakukan pekerjaan lain, seperti mencuci baju dan masak. Dia juga mengerjakan semua urusan belanja yang membuat dia menjadi harus pergi ke pasar setiap hari.

Waktu aku masih bayi, hampir setiap hari, dia menggendongku di pinggulnya dengan menggunakan selendang dan duduk di kursi goyang yang ada di galeri belakang, sambil menyanyikan lagu “Nina Bobo” yang dia ganti dengan menggunakan namaku:

‘Helen bobo, Oh Helen bobo.

Kalau tidak bobo, digigit nyamuk.’

Pada saat dia menyanyi, tangannya menepok-nepok pantatku. Hanya dengan itu saja, kemudian aku akan tertidur dengan santai.

Setiap malam, Sitih selalu memeriksa jendela kamarku, untuk memastikan apakah jendela kamarku sudah dikunci dengan benar atau belum. Kalau aku sakit dia akan tidur berbaring di atas tikar, di sudut ruangan kamarku, untuk menjagaku secara harfiah.

Kadang-kadang Sitih kuajak duduk di sampingku, untuk bersama-sama membaca buku dengan banyak illustrasi yang indah.

“Ini harimau, Sitih,” kataku sambil menunjuk gambar harimau di buku.

“Iya, Non.” jawab Sitih.

“Sitih pernah dimakan harimau?”

“Belum, Non,” jawab Sitih.

“Mau?”

“Tidak mau, Non.”

“Kenapa, Sitih?”

“Sakit, Non.”

“Iya. Sitih betul,” kataku. “Jangan mau.”

***

Sitih sudah dianggap menjadi bagian dari keluargaku sendiri. Dia benar-benar lebih sebagai orang kepercayaan keluargaku daripada sebagai seorang Baboe.

“Kenapa Sitih punya hidung pesek, Mama?” kutanya Mama waktu aku sedang berdua dengan Mama di ruang tamu.

“Hush!!!” Mama memintaku berhenti bicara dengan cara menempelkan telunjuk di bibirnya, kemudian dia menengok sana kemari seperti takut kalau Sitih bisa mendengar.

“Sitih punya hidup sederhana,” kata Mama lagi, “Hidung Sitih sedikit saja, itu sudah cukup untuk Sitih.”

“Tapi, Mama …”

Mama cepat-cepat melanjutkan: “Tidak ada tapi-tapi. Kalau Sitih punya hidung mancung, nanti kena tukar dengan Helen punya hidung.”

“Oh?,” kataku samar-samar.

“Jangan Helen bertanya itu kepada Sitih ya?”

“Helen harus bertanya apa ke Sitih, Mama?”

“Sudah. Tidak perlu bertanya apa-apa.”

***

Sitih berpendapat bahwa manusia, di dunia ini, hidup di antara makhluk-mahluk yang tidak dapat dilihat.

“Seperti angin, Sitih?”

“Iya. Seperti angin.”

“Seperti kentut.”

Sitih ketawa sambil membetulkan kerah kebayanya.

Aku juga mendengar dari Sitih mengenai cerita-cerita fantastis tentang mitologi, takhayul, hantu, dan kisah-kisah lain yang menyebabkan bulu kudukku terangkat.

Sebagai seorang anak kecil, tentu saja, aku takut mendengar ceritanya, sampai membuat aku minta dipeluk oleh Sitih untuk menempatkan diriku di bawah perlindungannya. Tetapi jangan takut, kata Sitih, mereka tidak akan menggagu, selama kita juga tidak mengganggu mereka.

Selain Kuntilanak dan Genderewo, aku juga mengenal Lulun Samak dari Sitih. Lulun Samak yang dimaksud oleh Sitih adalah Hantu Tikar, yang biasa muncul di siang hari, mengambang di danau Situ Cileunca, menunggu sampai ada orang yang mendudukinya, kemudian orang itu akan digulung, dibawa ke dasar danau yang dalam.

Selain itu, Sitih juga bercerita tentang adanya saat-saat Sandikala, yaitu saat ketika hari sudah senja, di mana semua jenis mahluk jahat akan keluar dari tanah, berkeliaran, mencari anak-anak yang masih berada di luar rumah.

“Sitih, apakah Tuhan itu benar-benar ada?”

“Iya, Non. Ada.”

“Di kota atau di desa, Sitih?”

“Di mana-mana, Non.”

“Untuk apa, Sitih?”

“Melindungi kita, Non”

“Baguslah kalau begitu”

Aku juga mengenal istilah pamali dari Sitih. Kelak aku tahu bahwa semua itu adalah mitos, sebagai sisa-sisa kepercayaan animistik asli yang disebut takhayul dan ditaati oleh orang pribumi sebelum kedatangan orang-orang Muslim.

“Non, jangan duduk di lubang pintu.” Kata Sitih.

Dia mengatakannya ketika melihat aku sedang duduk di ambang pintu rumah sambil membuka sepatu sepulang dari sekolah.

“Kenapa, Sitih?”

“Pamali, Non. Nanti Non Helen susah dapat suami.”

Mendengar itu, aku langsung bergerak untuk pindah tempat duduk, sambil terus membuka sepatu, tanpa bicara sepatah katapun.

***

Sitih bukan satu-satunya orang yang bekerja di rumahku, masih ada Darsa dan Marwan.

Darsa adalah orang yang bertugas mengurus  taman dan juga kebun setiap hari berturut-turut. Usianya sudah agak tua saat itu. Rambutnya dipenuhi oleh uban. Dialah yang merawat taman dan kebun kami selama bertahun-tahun. Keberadaannya cukup penting, karena sebuah taman besar mungkin memerlukan orang khusus untuk merawatnya.

Sedangkan Marwan, adalah sopir keluarga, yang sudah melayani kami dari semenjak aku masih kecil. Waktu aku berusia delapan tahun, usianya mungkin sudah empat puluh tahun. Dia bisa berbicara bahasa Belanda dan selalu menggunakan jas putih yang bau manis tembakau dan kanji.

Sewaktu-waktu Marwan pergi mengantar ayahku ke Sindangglaya, ke Bandung, Batavia atau ke Buitenzorg. Kadang-kadang dia pergi sendiri ke Arjasari, atau ke Buitenzorg untuk mengambil surat dan lain-lain, di mana pada saat yang sama ia akan datang bersama kurir orang Jawa yang membawa roti, daging dan susu Pangalengan yang dipesan oleh Mama.

Setiap hari aku melihat Marwan sedang mencuci dan membersihkan mobil Papa. Benar-benar pekerjaan yang membutuhkan kepercayaan. Marwan tahu betul, betapa Papa sangat tertarik pada pelaksanaan tugasnya yang tepat waktu.

Sitih, Darsa dan Marwan, tinggal di bangunan belakang rumah, mungkin semacam pavilion, letaknya di belakang taman kecil yang biasa dipakai untuk menjemur pakaian setelah dicuci di dekat sumur.

Di sana, tidak jauh dari sumur, mereka memiliki kamar mandinya sendiri dengan bak mandi berupa wajan besar, sementara alat ciduknya menggunakan kaleng mentega bekas, yang diberi kayu sebagai pegangannya.

Aku tidak pernah mandi di sana, selain pasti akan dilarang oleh Papa dan Mama, karena aku punya kamar mandi sendiri, yaitu kamar mandi keluarga yang berada di bagian ruang tengah. Di dalamnya terdapat sebuah bak mandi yang cukup besar dengan dua ekor ikan mas berenang, untuk membuat air tetap bersih.  

Di bangunan tambahan, terdapat sebuah dapur, tempat Mama dan Sitih memasak untuk kami makan dua kali sehari, yaitu pada waktu siang dan malam hari. Biasanya kami menikmati makanan kaleng, seperti daging dan selai atau kentang. Sedangkan untuk pagi dan sore, kami menikmati susu atau teh, ditambah dengan pudding, tetapi kadang-kadang juga roti mentega yang diberi coklat atau strawberry.

Di sebelah kanan dapur, terdapat sebuah gudang, tempat untuk menyimpan makanan yang belum diolah, dan juga untuk menyimpan barang-barang rumah tangga seperti celemek, cangkul, golok, pakaian kerja dan lain-lain. Seingatku, kunci gudang itu akan selalu dipegang oleh Mama.

Sesekali aku suka main juga ke tempat tinggal mereka, terutama pada saat mereka sedang memiliki waktu luang yang cukup untuk ngobrol sambil merokok, atau pada waktu mereka sedang antri mandi di sore hari.

Aku mendapati mereka menggosok gigi dengan jari telunjuk, menggunakan bata merah yang ditumbuk, katanya lebih bersih daripada pasta gigi yang biasa kami pakai. Mereka juga keramas dengan menggunakan campuran abu jerami yang diaduk ke dalam seember air. Menurutku, itu terlalu gila, tetapi begitulah yang dilakukan mereka di waktu itu.

Lanjut lagi ke bab 2 ya

error

Please follow & like us :)